Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Polisi Dalami Warga yang Ditemukan Tewas di Sungai Batang Serangan, Diduga Dianiaya Oknum TNI

Sat Reskrim Polres Langkat sebut tak ada bukti maupun saksi yang menguatkan bahwa, Sungguh Satria Aritonang tewas dianiaya oleh oknum tentara.

Personel Polsek Padang Tualang melakukan evakuasi terhadap Sungguh Satria Arironang yang tewas di aliran Sungai Batang Serangan, Rabu (11/10/2023) lalu.
Personel Polsek Padang Tualang melakukan evakuasi terhadap Sungguh Satria Arironang yang tewas di aliran Sungai Batang Serangan, Rabu (11/10/2023) lalu.
A A

Nusantaraterkini.co, LANGKAT - Sat Reskrim sebut tak ada bukti maupun saksi yang menguatkan bahwa, Sungguh Satria Aritonang oleh oknum tentara beberapa waktu lalu.

Satria ditemukan tewas di atas bebatuan aliran Sungai atau tepatnya di Dusun Titi Belanga, Desa Sei Bamban, Kecamatan Batang Serangan, , , pada 11 Oktober 2023 silam.

"Tidak ada bukti maupun saksi yang menguatkan bahwa korban . Kalau memang mereka mengatakan begitu (dianiaya), suruh jadi saksi saja di kepolisian. Jangan cuma katanya," ujar Kasat Reskrim , AKP Dedi Mirza, dilansir Tribun Medan, Kamis (21/3/2024).

Meski begitu, Dedi menambahkan pihaknya masih mendalami perkara tersebut.

"Sedang kami dalami, dan rencana akan kami gelarkan dulu nanti," ujar Dedi.

Dedi menambahkan, pihaknya tidak mungkin mentersangkakan orang, tanpa bukti yang cukup.

"Coba tanya dengan betul, jika mereka bilang korban penganiayaan, apakah mereka melihat langsung dan bersedia menjadi saksi di kepolisian. Jangan cuma asumsi," berang Dedi.

Disinggu soal hasil autopsi, Dedi menjelaskan memang ada luka, tapi tidak bisa dipastikan karena dianiaya.

"Luka, tapi tidak bisa dipastikan karena dianiaya atau karena benturan di saat tenggelam. Makanya nanti mau kami gelarkan lagi," ujar Dedi.

Dikabarkan sebelumnya, Minton Aritonang, bapak empat anak ini tengah mencari keadilan.

Anak pertamanya bernama Sungguh Satria Aritonang diduga dibunuh oknum tentara penjaga kebun yang ada di Desa Sei Serdang, Kecamatan , .

Peristiwa itu terjadi pada 10 Oktober 2023 silam.

Saat itu, Sungguh Satria Aritonang dan temannya bernama Dapot Nababan sempat dikejar-kejar oleh sekuriti perkebunan dan seorang berinisial HS.

Keesokan harinya, atau 11 Oktober 2023, Sungguh ditemukan tewas di atas bebatuan aliran Sungai Batang Serangan, di Dusun Titi Belanga, Desa Sei Bamban, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, .

Kondisinya cukup mengenaskan. Wajah dan sekujur tubuh babak belur.

Bahkan, menurut keterangan keluarga, bagian otak korban nyaris keluar dari kepala.

"Kami sudah dua kali mendatangi kantor Militer di Langkat. Tapi mereka tidak mau menerima laporan kami," kata Pdt D Simanjuntak, kerabat dari Minton Aritonang.

Ketika ditanya apa alasan PM tidak mau menerima laporan keluarga korban, PM TNI berdalih, bahwa yang bisa membuat laporan adalah polisi.

Alasannya, karena polisi yang menangani laporan dugaan penyiksaan berujung pembunuhan terhadap Sungguh Satria Aritonang tersebut.

"Karena tidak diterima laporan kami, kami pun sempat bertanya lagi ke Polsek Padang Tualang. Tapi sampai sekarang penyidikannya tidak jelas," kata Simanjuntak.

Ia mengatakan, mereka pun sempat mendatangi untuk melaporkan masalah ini.

Namun, hasilnya juga sama. Belum ada kejelasan mengenai laporan di Polsek Padang Tualang, dengan nomor laporan LP/B100/X2023/SPKT/POLSEK PD TUALANG/POLRES LANGKAT/POLDA itu.

Namun, saat ini laporan tersebut sudah dilimpahkan ke Polres Langkat.

"Padahal semua bukti, seperti pakaian dan jam tangan anak kami sudah disita oleh Polsek Padang Tualang," terang Simanjuntak.

Dalam perkara ini, ada banyak kejanggalan yang mereka temukan.

Satu diantaranya ketika pekerja kebun membabati rumput penuh darah, yang diduga menjadi lokasi eksekusi Sungguh Satria Aritonang.

Rumput penuh darah itu diduga sengaja ingin dihilangkan para terduga pelaku, untuk menutupi jejak penyiksaan dan pembunuhan.

Namun, kata Simanjuntak, arit yang dipakai untuk membabati rumput itu sudah ada di tangan Polsek Padang Tualang.

Keanehan lain yang ditemukan keluarga adalah ketika sopir mobil patroli perkebunan mendadak mengundurkan diri setelah kejadian.

Ada kecurigaan, bahwa sopir ini yang membantu membuang jenazah Sungguh Satria Aritonang ke aliran sungai.

Ketika ditanya mengenai pengunduran diri sopir yang mencurigakan itu, polisi, kata Simanjuntak, berdalih mengatakan bahwa sopir perkebunan mundur karena tidak sehat.

Selain itu, lanjut Simanjuntak, hal mencurigakan lainnya ketika sekuriti yang ikut mengajar korban mendadak 'hilang' tak pernah kelihatan lagi di muka umum.

"Kami berharap ada keadilan lah. Karena sudah berbulan-bulan kasusnya tidak ada kejelasan," kata Simanjuntak.

Senada disampaikan Minton Aritonang, ayah korban.

Saat pertama kali kasus ini terjadi, mereka sempat bertanya pada polisi, kapan hasil autopsi korban keluar.

Kala itu, polisi mengatakan bahwa hasil autopsi dari RS Bhayangkara Tingkat II Medan akan keluar paling lama dua atau tiga hari setelah proses pemeriksaan.

Nyatanya, sampai detik ini, hasilnya juga nihil.

"Sampai sekarang tak keluar juga hasilnya. Padahal kami sudah menunggu-nunggu," kata Minton.

Sebagai ayah, Minton cuma mengharap keadilan.

Ia mengapungkan harapan, agar pelaku bisa ditangkap dan diproses hukum.

"Saya cuma berharap agar pelakunya dihukum," kata Minton.(rsy/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru