Peluruhan Gempa Susulan Butuh 2–3 Minggu, BMKG Terjunkan Tim Survei Pemetaan Mikrozonasi di Flores
BMKG mencatat 231 gempa susulan di Flores dan memperkirakan peluruhan berlangsung 2–3 minggu, disertai survei mikrozonasi untuk rekonstruksi.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 231 aktivitas gempa bumi susulan (aftershocks) pascagempa tektonik utama yang mengguncang utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Aktivitas gempa susulan yang terdistribusi di sebelah utara Pulau Flores tersebut berada dalam magnitudo M2,5 hingga M6,2, di mana grafik pemantauan mengindikasikan tren peluruhan yang belum signifikan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengonfirmasi BMKG terus memantau pergerakan sesar secara real-time karena proses pemulihan dan stabilisasi sesar secara alami membutuhkan interval waktu tertentu sebelum aktivitas seismik benar-benar kembali normal.
“BMKG mengevaluasi proses peluruhan (penurunan kekuatan gempa) alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung WHEWG BMKG, di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Sebelumnya, BMKG memutakhirkan parameter gempa bumi tektonik dangkal tersebut menjadi magnitudo M7,7 dengan kedalaman 15 km, yang dipicu oleh aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back Arc Thrust). Sistem pemantauan BMKG merespons cepat dengan mengeluarkan peringatan dini tsunami hanya dalam waktu 2 menit 16 detik pasca-gempa utama. Jaringan observasi muka air laut (tide gauge) mencatat gelombang tsunami tiba di Reo Manggarai dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak mencapai 1,51 meter, Maurole Ende setinggi 0,34 meter, serta Bulukumba dan Bapo Bima melampaui 0,5 meter, sebelum akhirnya BMKG resmi mengakhiri seluruh Peringatan Dini Tsunami pada pukul 07.30 WIB.
Berdasarkan peta intensitas guncangan (intensity map), guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di Aesesa (Kabupaten Nagekeo), Riung (Kabupaten Ngada), Kota Ende, serta kawasan Manggarai dan Ruteng. Guna mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, BMKG menerjunkan tim ahli dari BMKG Pusat bersama 14 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG se-NTT untuk menggelar survei pemetaan mikrozonasi dan makroanalisis di wilayah Ngada, Nagekeo, dan titik-titik rawan lainnya.
"Hasil analisis lapangan ini akan diserahkan kepada pemangku kepentingan sebagai rujukan teknis utama dalam melangsungkan rekonstruksi serta penguatan (retrofitting) struktur bangunan tahan gempa," sebutnya.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
PERISTIWAGempa Bumi Magnitudo 6.1 di Sumba Barat Daya, Guncangan Kuat Dirasakan Selama 1 Menit
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
PERISTIWAGempa M5.9 Guncang Aceh Jaya, Getaran Kuat Dirasakan Warga hingga Meulaboh
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SEPAKBOLAHead to Head FIFA ASEAN Cup 2026: Rekor Pertemuan dan Duel Sengit Indonesia vs Thailand
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
EKONOMIHarga Pangan Global Melonjak ke Level Tertinggi dalam Empat Tahun Akibat Gangguan Logistik dan Cuaca
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
SUMUTGangguan Kamtib KA di Sumut Turun 75 Persen, KAI Ajak Warga Jaga Jalur Rel
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
OLAHRAGAIndonesia Peringkat 15 Klasemen Medali Asian Games 2026
Herman Saleh Harahap·11 jam yang lalu -
-
SUMATERA TERKINIDentuman Gandang Tambua Tandai Pembukaan HUT ke-81 Pasaman
Herman Saleh Harahap·12 jam yang lalu -
-
Semua berita sudah ditampilkan