Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Miskalkulasi Gedung Putih: Strategi Runtuh Seketika Amerika di Iran Menemui Jalan Buntu

Strategi militer AS di Iran dinilai gagal. Analis sebut Washington salah kalkulasi ketahanan politik dan stabilitas pemerintahan Teheran.

Ilustrasi pemimpin AS dan Iran.(foto: rmol)
Ilustrasi pemimpin AS dan Iran.(foto: rmol)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA-Dua pekan pasca-agresi militer dan Israel ke jantung wilayah , narasi kemenangan cepat yang diusung Washington mulai memudar. Strategi militer yang disusun pemerintahan , yang awalnya diprediksi akan meruntuhkan kedaulatan Teheran dalam hitungan jam, kini justru terjebak dalam perang urat syaraf yang panjang dan kompleks. Kegagalan Amerika dalam memprediksi ketahanan internal Iran menunjukkan adanya celah besar dalam analisis geopolitik mereka terhadap kekuatan Republik Islam tersebut.

​

Analis geopolitik , dalam ulasannya di media RT, Sabtu (14/3/2026), membongkar bahwa strategi Amerika didasarkan pada asumsi yang terlalu percaya diri. Washington awalnya meyakini bahwa serangan udara masif akan menciptakan efek domino yang melumpuhkan institusi negara dan memicu pemberontakan elite. 

Harapan mereka adalah keruntuhan total sistem politik hanya dalam satu atau dua hari pertama konflik. Namun, kenyataan di lapangan justru memperlihatkan soliditas yang tidak terduga dari struktur pemerintahan Iran.

​Meskipun pemimpin tertinggi dilaporkan terbunuh pada hari pertama serangan, sebuah peristiwa yang seharusnya menjadi pukulan maut bagi stabilitas negara, sistem politik Iran terbukti memiliki mekanisme suksesi yang sangat responsif. Majelis Pakar dengan cepat menunjuk sebagai pengganti, memastikan tidak adanya kekosongan kekuasaan yang bisa dimanfaatkan lawan.

Ibragimov menilai ketahanan ini adalah buah dari pengalaman panjang Iran selama puluhan tahun di bawah kepungan sanksi dan tekanan internasional. Model negara yang mengintegrasikan legitimasi religius dengan aparat keamanan yang kuat terbukti mampu menyerap guncangan ekstrem.

​Inkonsistensi strategi Amerika pun kini menjadi sorotan tajam. Narasi yang awalnya menggembar-gemborkan "perubahan rezim" secara mendadak bergeser menjadi sekadar upaya "demiliterisasi". Perubahan retorika ini dinilai sebagai sinyal kebingungan di tingkat pengambil kebijakan di Washington. Ibragimov menegaskan bahwa 

“Harapan awal Washington akan pelemahan Iran yang cepat tidak terwujud. Sebaliknya, situasi saat ini menunjukkan bahwa Republik Islam sedang menghadapi ujian berat dan siap menunjukkan ketahanannya terhadap tekanan eksternal,” tulisnya dalam ulasan tersebut, seperti dilansir RMOL.

​Alih-alih menyaksikan keruntuhan instan, dunia kini melihat Iran yang sedang menjalani uji ketahanan nasional paling brutal dalam sejarah modernnya. Perang ini bukan lagi sekadar soal keunggulan teknologi persenjataan, melainkan pertarungan stabilitas politik. Dengan sistem yang tetap berfungsi dan rantai komando yang tetap terkendali, kini dihadapkan pada realitas pahit bahwa mereka telah salah menghitung "daya tahan" sang lawan di Timur Tengah.

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait