Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Matahari dan Debu Menjadi Teman Sehari-hari Pria Berusia 75 Tahun di Kota Medan

Matahari dan Debu Menjadi Teman Sehari-hari Pria Berusia 75 Tahun di Kota Medan

A A

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Teriknya matahari, debu jalanan hingga kemacetan menjadi rutinitas sehari-hari Asan Basri.

Pria yang kini memasuki usia 75 tahun, masih bergelut dengan getirnya .

Dengan becak dayung yang telah dimodifikasi menjadi bak terbuka, Asan berkeliling kota mencari barang-barang yang tak terpakai untuk kembali dijual.

Tak banyak harapannya setiap kali beranjak dari rumah, sekedar cukup untuk biaya anak sekolah.

Di tengah teriknya sengatan matahari, Asan memarkirkan becak dayungnya di Jalan HM Yamin, dan berteduh di bawah pohon.

Sembari memilah-milah plastik cup, karton dan barang lainnya yang hari ini berhasil didapatnya.

"Saya menjalani pekerjaan ini sudah 10 tahun. Ya mengumpulkan barang-barang yang tidak digunakan dari pada jadi sampah, jadi saya mengutipnya dan menjualnya ke tempat pengepul," ujarnya saat ditemui, Selasa (5/5/2026).

Dalam mengumpulkan barang bekas tak terpakai ini, Asan tak henti-hentinya berkeliling , Muali dari Pinang Baris, Amplas bahkan ke kawasan Belawan.

Asan menjelaskan, barang-barang bekas yang ia kumpulkan tersebut nantinya akan dijual kembali dengan harga yang relatif murah. Untuk satu kilogram botol plastik atau kardus, ia hanya mendapatkan bayaran sebesar Rp 2500.

“Dalam sehari biasanya dapat 5 sampai 7 kilo, gak tentu juga. Kalau dipikir-pikir memang gak cukup untuk biaya kontrakan rumah dan anak sekolah, apalagi anak saya sekarang sudah kelas 3 SMP,” tambahnya.

Meski pendapatan yang dihasilkan tidak menentu, pria paruh baya ini mengaku tetap bersyukur karena sang istri juga turut membantu mencari tambahan penghasilan dengan bekerja sebagai buruh cuci.

“Untungnya istri juga bantu-bantu nyuci. Kalau untuk bantuan, kadang ada juga dari pemerintah seperti uang sekolah atau bantuan sembako, itu sangat membantu kami,” ungkapnya.

Ketekunan Asan Bajri menjadi potret nyata perjuangan warga kelas bawah di Kota Medan dalam menghadapi kerasnya ekonomi. Meski rintangan fisik di usia senja kian terasa, semangatnya untuk menyekolahkan sang anak tetap menjadi motivasi utama di setiap kayuhan becaknya.

(cw1/nusantaraterkini.co)   

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru