Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Kritik Impor Gula Rafinasi, DPR Desak Pemerintah Lindungi Petani Tebu Lokal

Anggota DPR kritik impor gula rafinasi tak terkendali yang tekan petani lokal dan rusak industri nasional

Nasim Khan di sela-sela rapat di Komisi VI DPR. (Foto: istimewa)
Nasim Khan di sela-sela rapat di Komisi VI DPR. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Anggota Komisi VI , mengkritik kebijakan yang dinilai tidak terkendali. 

Ia menegaskan, maraknya gula impor telah menekan keberlangsungan lokal sekaligus merusak ekosistem nasional.

Nasim menyebut, persoalan gula rafinasi sudah berlangsung selama belasan tahun tanpa penyelesaian konkret.

Ia mendesak pemerintah agar konsisten menjalankan kebijakan, terutama terkait kewajiban importir untuk memiliki kebun tebu sendiri guna mendukung produksi dalam negeri.

“Kalau impor dibiarkan tanpa kontrol, sama saja dengan mematikan secara perlahan. Keuntungan impor memang cepat, tapi dampaknya fatal bagi industri nasional,” ujar legislator asal Jawa Timur tersebut, Kamis (9/4/2026).

Selain itu, Nasim juga menyoroti persoalan distribusi gula yang dinilai tidak efektif. Ia mengungkapkan adanya penumpukan stok di gudang BUMN seperti PT Perkebunan Nusantara () dan Sugar Co (SGN).

Ia turut mengkritik kebijakan tarif impor nol persen untuk produk turunan seperti etanol. Menurutnya, kebijakan tersebut membuat pabrik dalam negeri sulit bersaing dengan produk impor.

“Banyak pabrik dalam negeri tidak berjalan dan tidak bisa menggiling tebu karena kalah bersaing dengan produk impor bertarif nol persen. Ini fakta lapangan yang harus segera dibenahi,” tegasnya.

Nasim berharap pemerintahan Prabowo Subianto mampu mengorkestrasi sinergi lintas sektor guna mencapai . Ia juga meminta kementerian terkait tidak hanya fokus pada regulasi, tetapi berani menegakkan aturan di lapangan.

Di sisi lain, ia menyinggung persoalan internal PTPN, mulai dari skema Kerja Sama Operasi (KSO) yang belum tuntas hingga .

Nasim mencontohkan insiden pembakaran gedung di kawasan Ijen, Bondowoso, sebagai bukti adanya ketegangan antara perusahaan dan masyarakat yang belum terselesaikan.

“Penyelesaian konflik harus mengacu pada regulasi, termasuk Perpres Nomor 5 Tahun 2025. Jangan sampai pemerintah daerah atau masyarakat terus disudutkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nasim menyatakan akan mendorong pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Agraria untuk menuntaskan persoalan lahan, termasuk ratusan ribu hektare lahan sawit tanpa Hak Guna Usaha (HGU). 

Ia menilai sektor perkebunan perlu dibenahi secara serius karena kontribusinya masih jauh dari potensi maksimal yang bisa mencapai puluhan triliun rupiah.

(LS/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait