Kisah Kasto Wahyudi: Mantan Pembalak yang Kini Sulap Pesisir Langkat Jadi Surga Ekowisata
Inspirasi Kasto Wahyudi: Dari perusak alam kini sukses bangun ekonomi warga lewat konservasi mangrove Langkat
Nusantaraterkini.co, LANGKAT - Kasto Wahyudi kini bisa merasa lega melihat hamparan hutan mangrove kembali rimbun. Perjuangannya selama belasan tahun dalam pelestarian mangrove mulai berbuah manis.
Kini, ia mengawal perekonomian masyarakat agar tumbuh selaras dengan napas alam di pesisir Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Namun, rimbunnya dedaunan hijau di desa itu menyimpan cerita kelam.
"Saya sudah 15 tahun fokus menanam mangrove. Ini cara saya menebus dosa. Dulu tangan ini yang menebang dan merusak akar-akar itu. Akibatnya, laut jadi hitam, dan warga menjerit karena tangkapan kosong," ujarnya dengan tatapan nanar dalam keterangan, Selasa (28/4/2026).
Kerusakan kawasan hutan mangrove akibat pembalakan di masa lalu berdampak buruk terhadap perekonomian warga. Akar penahan abrasi hilang, air laut berubah menjadi hitam pekat. Akibatnya, nelayan harus melaut jauh ke tengah hanya untuk mencari kepiting dan udang yang dulu berserakan di pekarangan pesisir.
Hantaman ekonomi dan rasa bersalah itulah yang menjadi titik balik Kasto. Setiap hari, ia memunguti bibit mangrove dan menanamnya kembali secara otodidak di dekat rumahnya. Berjalan sendirian tentu melelahkan. Lalu, ia mengajak sesama mantan pelaku bisnis arang bakau untuk bertobat dan memperbaiki ekosistem mangrove.
Selanjutnya, pada 2011, ia bersama rekan-rekannya membentuk Kelompok Tani Penghijauan Maju Bersama untuk berpatroli dan secara konsisten menanam bakau setiap pekan.
"Mulanya, saya perhatikan kalau hujan air laut tetap menjadi berlumpur. Tetapi ketika pohon mangrove yang kami tanam mulai besar, warna airnya kembali jernih. Ikan semakin banyak. Udang dan kepiting tidak lagi sulit dicari," kenang Kasto.
Konsistensi menanam selama bertahun-tahun membawa mereka pada langkah legalitas. Kelompok ini resmi mengantongi izin kemitraan perhutanan sosial seluas 178 hektar dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah I Stabat.
Kawan Sepadan di Jalan Konservasi
Kelompok Tani Penghijauan Maju Bersama kini memiliki tabungan dari hasil penjualan bibit mangrove yang dikelola secara mandiri untuk operasional merawat hutan.
Perjuangan panjang warga Pasar Rawa ini akhirnya menarik perhatian Pertamina EP (PEP) Pangkalan Susu Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1. Kehadiran perusahaan bukan untuk mengambil alih inisiatif, melainkan melipatgandakan dampak positif yang telah dibangun Kasto. Melalui program pemberdayaan, PEP memfasilitasi pengembangan area konservasi tersebut menjadi Edu-Ekowisata Mangrove terpadu.
Menurut Kasto, dukungan dari PEP Pangkalan Susu Field memberikan loncatan besar terhadap kehidupan ekonomi masyarakat sekitar. Kini, warga tidak hanya menjadi nelayan, tetapi merangkap sebagai pengelola desa wisata, perajin UMKM Baronang Crispy, hingga penyedia jasa homestay.
"Belasan tahun kami merintis ini dengan peluh sendiri. Ketika Pertamina masuk membawa dukungan—mulai dari pembangunan jalur susur sampai fasilitas homestay—rasanya perjuangan kami akhirnya dihargai. Kami tak lagi merasa berjalan sendirian menjaga pesisir ini," kata Kasto penuh haru.
"Dulu penghasilan warga dari merusak alam (usaha arang) Rp 50 ribu per hari saja sudah hebat. Kalau sekarang warga bisa peroleh Rp 200 ribu per hari dari pembibitan mangrove yang menjaga alam. Belum lagi dari mencari ikan, udang dan kepiting di kawasan hutan," ujarnya.
Sementara itu, Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal menjelaskan, bahwa kisah Kasto Wahyudi adalah alasan kuat mengapa PHR Zona 1 hadir di Pasar Rawa.
"Pak Kasto adalah bukti nyata bahwa seburuk apa pun masa lalu, manusia bisa berubah dan menyembuhkan alam. Peran kami di Pertamina sebatas mengamplifikasi niat mulia tersebut agar dampaknya meluas menjadi kemandirian ekonomi desa," katanya.
"Ketika ekosistem laut pulih, jalan menuju kesejahteraan akan terbuka dengan sendirinya. Kami berharap edu-ekowisata ini bisa menjadi contoh sukses harmonisasi antara pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi akar rumput," ungkap Iwan.
(zie/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NASIONALHasto Ungkap PDIP Intensif Lobi Fraksi DPR, Dorong Tindak Lanjut Putusan MA soal Gibran
hendra·32 menit yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALUsai Pesta Miras, Pria di Maros Tikam Keponakan hingga Kritis gegara Salah Paham soal Gaji
hendra·1 jam yang lalu -
NEWSDKPP Terima 5 Aduan soal Pencalonan Gibran, Dua Siap Masuk Tahap Persidangan
hendra·2 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALWN Malaysia Rampok Warga Batam Pakai Pisau dan Airsoft Gun, Gasak Mobil hingga Rp292 Juta
hendra·2 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALPolisi Sita 1,2 Juta Pil Tramadol Ilegal, Pria Asal Aceh Ditangkap
hendra·3 jam yang lalu -
-
SUMSELGapeka 2026 Berlaku 1 Desember, KAI Palembang Imbauu Penumpang Cek Ulang Jadwal Tiket
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NEWSPengurus JMSI Karo Resmi Dilantik, Siap Bersinergi dengan Pemkab
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
NEWSPara Eks Dankor Brimob Sambangi Kapolri, Ini Pesan Penting PKBB untuk Polri
hendra·4 jam yang lalu -
SUMSELPusri Salurkan 306 Ribu Ton Pupuk Bersubsidi di Sumsel Jelang Musim Tanam
Rozie Winata·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan