Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Ironi Bus Listrik Medan: Canggih di Dalam Kabin, Lumpuh di Jalanan ​

Bus listrik Medan menawarkan kenyamanan dan tarif praktis, tetapi masih terjebak kemacetan sehingga waktu tempuh Amplas–Belawan mencapai dua jam.

Para penumpang yang sudah menunggu di halte bergerak memasuki bus usai mendengar  seruan petugas yang mengarahkan para penumpang, Rabu (23/9/2026).(foto: herman/nusantaraterkini.co)
Para penumpang yang sudah menunggu di halte bergerak memasuki bus usai mendengar seruan petugas yang mengarahkan para penumpang, Rabu (23/9/2026).(foto: herman/nusantaraterkini.co)
A A

Nusantaraterkini.co, MEDAN-Suara pengumuman dari petugas bus terdengar nyaring melintasi ruang tunggu Halte Jalan Wali Kota (Kantor Pos Medan), Rabu (23/9/2026) sekitar pukul 07.30 WIB. “Tujuan Pinang Baris!, berselang kemudian datang lagi bus lain, Tujuan Tuntungan, begitu seterusnya hingga ada yang Tujuan Belawan.

Para penumpang yang sudah menunggu di halte pun bergerak memasuki bus usai mendengar seruan petugas yang mengarahkan para penumpang, termasuk awak Nusantaraterkini.co, yang menumpangi bus tujuan Belawan.

​Mekanisme operasional angkutan umum massal di Medan sejatinya sudah tertata rapi. Calon penumpang cukup menempelkan kartu e-money pada mesin tap-in, lalu melangkah masuk ke dalam bus listrik yang sejuk. Di dalam armada, terdengar seruan melalui pengeras suara setiap tiba dan berangkat dari halte ke halte.  

"Tidak Makan dan Merokok, Medan untuk Semua" menjadi pengingat standar kenyamanan bersama. Namun begitu pintu otomatis tertutup dan bus mulai berjalan, kenyamanan tersebut mendadak kandas begitu berhadapan dengan realitas kemacetan jalan raya.

​Dua Jam Perjuangan Amplas–Belawan

Bagi pekerja harian seperti Ifan, naik angkutan umum adalah pilihan logis untuk menghemat pengeluaran, meski harus dibayar mahal dengan efisiensi waktu. Tinggal di kawasan Amplas dan bekerja di kawasan industri Belawan, Ifan harus melakoni rute panjang dengan berpindah armada di titik transit pusat kota (halte kantor pos).

​"Dari Amplas saya naik bus koridor Medan–Amplas, lalu ganti armada rute Medan–Belawan transit di sini (halte kantor pos). Kalau bicara kenyamanan, bus listrik ini sangat membantu. Tapi kalau bicara kecepatan, jujur naik kendaraan pribadi masih jauh lebih cepat," tutur Ifan.

​Setiap pagi, perjalanan Ifan adalah pacuan melawan waktu. Berangkat pukul 06.30 WIB dari Amplas, ia baru menaiki bus kedua rute Belawan sekitar pukul 07.58 WIB di halte transit pusat kota itu. Perjalanan koridor utara ini harus melintasi deretan panjang halte perhentian di sepanjang Koridor Yos Sudarso, mulai dari Halte Simpang Pos, Lapangan Merdeka, RS Putri Hijau, Pasar Glugur, Methodist 8, Maju Bersama, Cilincing, Pasar Palapa Brayan, Universitas Potensi Utama, Simpang Kayu Putih, Simpang KIM, Kota Bangun, Titi Papan, Martubung, Titi Bambu, Guna Budi Bakti, Pajak Inpres, RSUD Labuhan, Pertamina, PLN, Simpang Sicanang, Simpang Pahlawan, hingga ke Belawan Dua, Lantamal dan Kota Belawan.

​Karena bus harus berbagi jalur sempit dengan truk-truk kontainer, sepeda motor dan transportasi lainnya, durasi tempuh membengkak hingga 1 jam 45 menit sampai 2 jam.

​"Dari rumah jam 06.30 WIB, baru sampai lokasi kerja jam 08.15 atau 08.30 WIB. Beruntung di kantor keterlambatan sedikit masih ditoleransi. Harapan kami, pemerintah harus segera merealisasikan membuat jalur khusus agar waktu tempuh bus listrik ini bisa lebih cepat dan pasti," tegas Ifan.

​Kejar Jadwal Kuliah Tanpa Kepastian Waktu

Tantangan serupa menghampiri kaum akademisi. Rizky, mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) Medan yang kampusnya terletak di Padang Bulan, memanfaatkan layanan bus listrik koridor Medan–Tuntungan atau bisa juga Medan–J-City.

​Bagi Rizky yang memiliki mobilitas tinggi dari kawasan Sei Sekambing, kemudian Padang Bulan, hingga agenda seminar kampus, ketepatan waktu perjalanan armada adalah faktor krusial. Kehadiran bus listrik dinilai sangat membantu dari segi biaya. Sebab, kata dia, cukup sekali bayar dengan sistem nontunai. Namun, keterlambatan akibat macet kerap mengganggu jadwal perkuliahan.

​"Bus listrik ini jelas lebih praktis dan ekonomis. Tapi kalau busnya masih terjebak macet bersama kendaraan lain, kepastian sampai lokasi jadi tidak ada. Jalur khusus harus direalisasikan lebih gencar agar mahasiswa tidak rugi waktu saat hendak mengejar jam kuliah," ujar Rizky.

​

Dilema Pengemudi dan Pengalihan Rute

Di baris terdepan operasional, para pengemudi bus memikul beban berat untuk menjaga ritme perjalanan. Seorang sopir bus rute Medan–Belawan menceritakan bagaimana dinamika lapangan kerap menggagalkan target headway yang disusun manajemen.

​"Saat bus sampai di halte, kami dan petugas langsung menginfokan rute dan memanggil penumpang. Kami ingin bus segera berangkat. Namun begitu masuk jalan umum, bus langsung terkunci kemacetan. Terkadang saat ada penumpukan kendaraan, harus ada penyesuaian rute. Selama belum ada jalur khusus yang steril, bus listrik secerdas apa pun akan tetap kalah cepat dari sepeda motor," ungkapnya.

​Integrasi dan Jalur Steril

Sistem pembayaran e-money, fasilitas ber-AC, dan transparansi informasi halte merupakan lompatan besar bagi transportasi publik di Kota Medan. Kendati demikian, armada berteknologi tinggi tidak akan mampu menarik mayoritas warga untuk meninggalkan kendaraan pribadi jika waktu tempuhnya dua kali lipat lebih lambat.

​Urgensi terbesarnya saat ini bukan lagi sekadar menambah jumlah bus, melainkan menyediakan jalur khusus yang terpisah dari lajur kendaraan umum. Rencana pembangunan Bus Raya Terpadu (BRT) Mebidang dengan koridor khusus sepanjang 21 kilometer harus segera diwujudkan secara nyata. 

"Tanpa keberanian membagi ruang jalan, akan terus terjebak dalam dilema, canggih dan nyaman di dalam kabin, namun tetap lumpuh ditelan kemacetan kota," sebut Ifan.

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru