Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

IHSG Diprediksi Tertekan, Investor Cermati Tarif Trump hingga Konflik AS-Iran

IHSG diprediksi melemah pada perdagangan 27 Juli 2026. Investor mencermati tarif Trump, konflik AS-Iran, harga minyak, dan kebijakan The Fed.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ilustrasi (Foto: Freepik)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ilustrasi (Foto: Freepik)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Indeks Harga Gabungan () berpotensi kembali bergerak melemah pada perdagangan Senin (27/7/2026). Pelaku pasar diperkirakan masih mencermati sejumlah sentimen global yang berpotensi memengaruhi pergerakan Indonesia.

Pada perdagangan sebelumnya, Jumat (24/7/2026), ditutup turun signifikan 118,88 poin atau 1,90 persen ke posisi 6.196,43.

Analis Phintraco Sekuritas menilai tekanan terhadap IHSG masih berpeluang berlanjut. Indeks diperkirakan dapat menguji area 6.000 hingga 6.100 apabila sentimen negatif dari pasar global terus membayangi investor.

Sejumlah faktor yang menjadi perhatian antara lain meningkatnya ketegangan konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak dunia, serta kebijakan tarif tambahan yang diberlakukan Amerika Serikat.

"IHSG masih berpotensi melemah untuk menguji level 6000-6100, terutama jika didukung sejumlah sentimen negatif termasuk konflik AS-Iran yang memanas, harga minyak yang kembali menguat, serta tarif tambahan dari AS," jelas Phintraco Sekuritas dalam catatannya.

Dari sisi kebijakan perdagangan, Presiden Amerika Serikat diketahui memberlakukan tarif terhadap barang dari lebih dari 80 negara. Kebijakan tersebut disebut berkaitan dengan isu praktik kerja paksa dan mencakup mitra dagang yang mewakili sebagian besar aktivitas perdagangan AS.

Sentimen geopolitik juga masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Investor global akan mengikuti perkembangan konflik AS-Iran, termasuk peluang dimulainya kembali proses perundingan di tengah situasi kawasan Timur Tengah yang masih bergejolak.

Pergerakan saham perusahaan produsen chip di pada akhir pekan lalu juga masih mengalami tekanan. Di saat yang sama, pasar terus mencermati dinamika konflik di Timur Tengah serta potensi kebijakan lanjutan Amerika Serikat terhadap Iran.

Harga minyak dunia turut menjadi perhatian. Komoditas tersebut mengalami koreksi setelah muncul kabar mengenai kemungkinan jalur negosiasi perdamaian baru antara AS dan Iran yang disebut mendapat dorongan dari China.

Selain faktor geopolitik dan perdagangan, investor juga akan mengamati agenda penting sepanjang pekan ini. Pertemuan Federal Reserve atau , rilis Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat kuartal II 2026, serta data PCE Prices menjadi beberapa agenda yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar.

Dari Eropa, perhatian investor tertuju pada rilis data PDB dan inflasi Zona Euro serta keputusan kebijakan moneter Bank of England.

Sementara dari kawasan Asia, pasar akan menantikan keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ). China juga dijadwalkan menggelar pertemuan Politbiro untuk melakukan evaluasi pertengahan tahun.

Di tengah potensi tekanan pasar, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah yang dapat dicermati investor, yakni BBCA, TPIA, BULL, AKRA, TOWR, dan BRIS.

IHSG Berpotensi Bearish

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, juga melihat peluang pelemahan IHSG pada perdagangan Senin.

Secara teknikal, IHSG diperkirakan memiliki area support di kisaran 6.137-6.012. Sementara itu, level resistance berada pada rentang 6.261-6.416.

Nafan menilai pergerakan IHSG masih menunjukkan kecenderungan bearish setelah indeks membentuk pola long black opening marubozu candle. Sinyal negatif juga terlihat dari indikator Stochastics K_D yang diperkuat dengan penurunan volume perdagangan.

"Secara teknikal, pergerakan IHSG cenderung bearish setelah membentuk pola long black opening marubozu candle. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif, didukung penurunan volume," ujar Nafan.

Meski demikian, kinerja sejumlah perusahaan besar di yang relatif solid selama musim laporan keuangan dinilai dapat menjadi faktor yang membantu membatasi tekanan terhadap pasar saham.

Investor tetap perlu mencermati sejumlah faktor eksternal, terutama prospek kebijakan suku bunga , valuasi saham sektor teknologi, serta perkembangan harga minyak dunia.

Dari dalam negeri, ekspektasi terhadap rilis laporan kinerja keuangan emiten untuk semester I 2026 berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar. Publikasi kinerja tersebut juga dapat membuka peluang bargain hunting pada saham-saham dengan fundamental yang dinilai kuat.

"Dari sisi domestik, ekspektasi terhadap publikasi kinerja keuangan emiten semester I-2026 bisa menjadi penahan sentimen negatif dan memberikan peluang aksi bargain hunting pada saham yang memiliki fundamental solid," kata Nafan.

Untuk perdagangan hari ini, Mirae Asset Sekuritas Indonesia merekomendasikan investor mencermati saham ISAT, KLBF, dan UNVR.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG pada awal pekan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi dinamika pasar global. Investor pun perlu mencermati perkembangan geopolitik, kebijakan perdagangan AS, agenda bank sentral, serta kinerja emiten sebelum mengambil keputusan investasi.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait