Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

IHSG Awali Perdagangan dengan Koreksi ke 5.701

IHSG dibuka turun 0,79 persen ke level 5.701 pada perdagangan Rabu. Di tengah pelemahan bursa Asia, rupiah menguat ke Rp17.950 per dolar AS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ilustrasi (Foto: Freepik)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ilustrasi (Foto: Freepik)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pergerakan mengawali perdagangan Rabu (10/6/2026) di zona merah. (IHSG) tercatat melemah 45,25 poin atau 0,79 persen ke posisi 5.701 pada sesi pembukaan.

Berdasarkan data perdagangan pagi, aktivitas pasar cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 1,06 miliar lembar saham. Nilai transaksi yang dibukukan investor telah menembus Rp895,09 miliar dengan frekuensi perdagangan sebanyak 92.050 kali.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 256 emiten berhasil mencatatkan kenaikan harga. Sementara itu, 217 saham terkoreksi dan 191 saham lainnya bergerak stagnan.

Meski pasar saham mengalami tekanan, menunjukkan kinerja yang lebih baik. Mata uang Garuda terpantau menguat 0,60 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan diperdagangkan di kisaran Rp17.950 per dolar AS pada pembukaan pasar.

Sentimen pelemahan juga terlihat di sejumlah bursa utama Asia. Indeks saham Jepang, Hong Kong, China, dan Singapura kompak bergerak di zona negatif seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap perkembangan ekonomi global.

Di kawasan Asia Timur, indeks Nikkei 225 di Tokyo turun 1,11 persen atau 725,80 poin ke level 64.690,80. Sementara itu, Hang Seng Index Hong Kong terkoreksi 0,68 persen atau 167,50 poin menjadi 24.398,40.

Tekanan serupa juga terjadi di pasar saham China, di mana Shanghai Composite Index melemah 0,18 persen atau 7,21 poin ke posisi 4.002,82. Adapun Straits Times Index Singapura mencatat penurunan paling dalam di antara indeks regional lainnya, yakni 1,44 persen atau 72,26 poin ke level 4.950,99.

Pelaku pasar kini mencermati berbagai sentimen eksternal, termasuk perkembangan ekonomi global, arah kebijakan suku bunga bank sentral, serta dinamika geopolitik yang masih membayangi pergerakan aset berisiko.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait