Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Habiburokhman Nilai Kritik Dino Patti Djalal ke Pemerintahan Prabowo Tidak Produktif

Habiburokhman Nilai Kritik Dino Patti Djalal ke Pemerintahan Prabowo Tidak Produktif

A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Anggota DPR dari Fraksi Gerindra, Habiburokhman, menilai kritik yang disampaikan oleh Dino Patti Djalal terhadap pemerintahan Presiden tidak produktif dan tidak didasarkan pada informasi yang akurat.

Menurut Habiburokhman, di era demokrasi dan keterbukaan saat ini, setiap kritik tentu harus dihormati, termasuk yang datang dari mantan pejabat tinggi negara. Namun, ia menilai kritik yang dilontarkan Dino cenderung bersifat politis dan lebih mengarah pada upaya mengolok-olok pemerintahan yang sedang berjalan.

“Di era demokrasi dan keterbukaan tentu kita senantiasa membuka diri terhadap kritik, termasuk dari mantan pejabat tinggi seperti Dino Patti Djalal. Namun demikian, sebagai sesama anak bangsa saya harus mengkritik balik Dino. Kritik beliau tidak produktif karena tidak berbasis informasi yang akurat,” ujar Habiburokhman yang juga Ketua Komisi III DPR ini.

Ia juga menyoroti saran Dino yang meminta Presiden Prabowo lebih banyak mengundang pemimpin negara lain ke . Menurutnya, pandangan tersebut kurang tepat jika melihat dinamika geopolitik global yang saat ini penuh ketidakpastian.

Habiburokhman menegaskan bahwa dalam situasi global saat ini, seorang kepala negara harus aktif membangun komunikasi diplomatik, baik dengan menerima kunjungan pemimpin negara lain maupun melakukan kunjungan ke luar negeri demi memperjuangkan kepentingan nasional.

“Menurut kami justru Presiden Prabowo harus sangat proaktif, baik menerima kunjungan maupun mengunjungi pemimpin negara lain. Di tengah ketidakpastian situasi global saat ini, diplomasi aktif menjadi sangat penting,” kata Anggota MKD DPR ini.

Lebih lanjut, Habiburokhman menilai sebagai mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino seharusnya lebih berhati-hati dalam mengkritik kebijakan luar negeri pemerintahan yang sedang berjalan. 

Ia berpendapat bahwa di banyak negara maju, mantan pejabat umumnya membatasi diri dalam mengomentari kinerja penerusnya sebagai bentuk penghormatan kepada pihak yang tengah menjalankan tugas negara.

Menurutnya, kritik dari mantan pejabat terhadap penggantinya juga berpotensi menjadi bumerang karena publik dapat membandingkan capaian kinerja keduanya.

“Hal tersebut didasarkan pada sikap menghormati orang yang sedang bekerja. Kritik mantan pejabat kepada penerusnya bahkan bisa menjadi bumerang jika publik membandingkan kinerja si mantan dengan yang sedang menjabat,” pungkasnya.

(LS/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru