Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

DPR Soroti Kenaikan BBM Non-Subsidi di Tengah Ramadan: Ancaman Baru bagi Harga Pangan

DPR soroti kenaikan BBM non-subsidi di tengah Ramadan karena dinilai berpotensi memicu kenaikan harga pangan dan menekan daya beli masyarakat.

Syafruddin Disela-sela Raker Komisi XII DPR (foto:istimewa)
Syafruddin Disela-sela Raker Komisi XII DPR (foto:istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi kembali menuai kritik di tengah meningkatnya beban ekonomi masyarakat selama Ramadan. Anggota , , Rabu (11/3/2026), menilai pemerintah harus segera menjelaskan dan mengevaluasi dampak kebijakan tersebut, terutama terhadap rantai nasional yang sangat bergantung pada biaya energi.

Menurutnya, keputusan menaikkan pada saat harga kebutuhan pokok masih tinggi justru berpotensi memperparah tekanan ekonomi rumah tangga. Ia mendesak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk tidak sekadar melihat dari sisi fiskal, tetapi juga dari dampaknya terhadap stabilitas dan inflasi.

“Pemerintah tidak boleh menutup mata. Kenaikan BBM non-subsidi di tengah Ramadan jelas menambah tekanan baru pada biaya logistik pangan. Jika tidak dikendalikan, beban ini pada akhirnya akan ditanggung langsung oleh masyarakat,” tegas , di Jakarta.

Ia mengingatkan bahwa sektor merupakan salah satu sektor yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga energi. Kenaikan biaya bahan bakar hampir pasti akan diterjemahkan menjadi kenaikan ongkos transportasi, yang kemudian mendorong harga jual komoditas di pasar.

Dalam situasi konsumsi masyarakat yang meningkat selama Ramadan dan menjelang Idulfitri, kondisi tersebut berpotensi memicu gelombang inflasi baru. Syafruddin menilai pemerintah seharusnya mengantisipasi efek domino ini sejak awal, bukan justru mengambil kebijakan yang memperbesar risiko kenaikan harga.

“ tidak boleh dilepaskan dari realitas ekonomi rakyat. Jika ongkos distribusi melonjak, akan ikut naik. Ini bukan sekadar isu energi, ini menyangkut daya beli masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti lemahnya koordinasi lintas kementerian dalam merespons persoalan tersebut. Menurutnya, pemerintah perlu segera menyiapkan langkah mitigasi konkret, termasuk kemungkinan insentif khusus bagi armada logistik pangan agar distribusi tetap efisien dan harga tetap terkendali.

Syafruddin menegaskan bahwa negara harus hadir untuk memastikan kebijakan energi tidak berubah menjadi sumber tekanan inflasi baru bagi masyarakat. Apalagi, periode Ramadan dan menjelang Idulfitri merupakan momen paling sensitif bagi stabilitas harga kebutuhan pokok.

, kata dia, akan terus memantau perkembangan kebijakan energi dan dampaknya terhadap sektor riil. Dalam waktu dekat, DPR juga akan meminta penjelasan resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengenai langkah mitigasi yang disiapkan pemerintah.

“Jangan sampai kebijakan energi yang seharusnya menopang ekonomi justru menjadi pemicu inflasi. Keamanan energi dan keterjangkauan harga pangan harus berjalan beriringan,” pungkasnya.

 (LS/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait