DPR Desak Sindikat di Balik Penyelundupan 1,3 Ton Ketamin Dibongkar, Jangan Berhenti di ABK
DPR desak aparat bongkar sindikat penyelundupan 1,3 ton ketamin di Kepri hingga tuntas
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pengungkapan penyelundupan hampir 1,3 ton ketamin di perairan Kepulauan Riau mendapat apresiasi dari Komisi III DPR RI. Namun, aparat diminta tidak berhenti pada penangkapan delapan anak buah kapal (ABK) yang menjadi pelaku lapangan.
Wakil Ketua Komisi III DPR, Rano Alfath meminta Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Polri, Bea Cukai, TNI Angkatan Laut, dan instansi terkait membongkar seluruh jaringan di balik pengiriman ketamin tersebut.
“Jangan berhenti di awak kapal atau kurir. Harus dikembangkan sampai ketemu siapa pemilik barangnya, siapa yang membiayai, dari mana barang berasal, ke mana akan didistribusikan, dan siapa penerima akhirnya,” katanya, Senin (10/8/2026).
Rano juga mendorong aparat menerapkan pendekatan follow the money untuk melumpuhkan jaringan dari sisi finansial. Menurut dia, keberhasilan operasi tidak cukup diukur dari jumlah barang bukti yang disita atau jumlah tersangka yang ditangkap.
“Kita ingin bukan hanya barangnya yang disita, tetapi seluruh ekosistem kejahatannya dibongkar dan kemampuan ekonominya dilumpuhkan,” tegasnya.
Rano mengapresiasi operasi gabungan BNN, Bareskrim Polri, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta TNI AL yang berhasil menggagalkan penyelundupan 1.298 kilogram atau hampir 1,3 ton ketamin di wilayah perairan Kepulauan Riau.
Menurutnya, pengungkapan tersebut menunjukkan sinergi antarlembaga dalam mempersempit ruang gerak jaringan peredaran gelap zat berbahaya.
“Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto dan seluruh jajaran BNN, serta Bareskrim Polri, Bea Cukai, dan TNI AL yang terlibat dalam operasi ini. Pengungkapan hampir 1,3 ton ketamin tentu bukan perkara kecil,” ujarnya.
BNN memperkirakan pengungkapan tersebut berpotensi menyelamatkan sekitar 6,49 juta jiwa. Sementara nilai ekonomis barang bukti ditaksir mencapai sekitar Rp2,1 triliun.
Rano mengatakan angka tersebut menggambarkan besarnya potensi kerusakan sosial yang berhasil dicegah.
“Jangan hanya melihat 1,3 ton atau nilai ekonominya yang hampir Rp2,1 triliun. Di balik angka itu ada jutaan masyarakat, khususnya generasi muda, yang berpotensi menjadi korban,” katanya.
Rano juga menyoroti perkembangan modus penyalahgunaan ketamin yang dinilai semakin kompleks. Menurutnya, sindikat terus beradaptasi dengan memanfaatkan perkembangan gaya hidup dan produk yang dekat dengan generasi muda. Karena itu, ia meminta pengawasan tidak dilakukan secara konvensional.
“Kemampuan intelijen, deteksi dini, pemeriksaan di pintu masuk, pengawasan jalur laut, sampai kapasitas laboratorium harus terus diperkuat,” tegasnya.
Dia juga menyoroti status hukum ketamin di Indonesia. Saat ini, ketamin belum masuk golongan narkotika dan masih dikategorikan sebagai obat keras atau Obat-obat Tertentu (OOT) yang peredaran dan penggunaannya berada dalam pengawasan ketat. Rano mendukung usulan BNN agar status ketamin dikaji lebih lanjut.
“Regulasi harus mampu mengikuti perkembangan modus kejahatan. Saya mendukung usulan BNN terkait penggolongan ketamin untuk dikaji secara serius, komprehensif, dan berbasis bukti ilmiah,” katanya.
Menurut Rano, jangan sampai terdapat celah regulasi yang justru dimanfaatkan sindikat untuk memperdagangkan zat berbahaya dalam skala besar.
Dimensi transnasional dalam kasus ini juga menjadi perhatian DPR. Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan delapan warga negara asing yang terdiri atas satu warga negara Taiwan dan tujuh warga negara Myanmar.
“Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah perairan yang sangat luas. Ini menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, sinergi BNN, Polri, Bea Cukai, TNI AL, dan seluruh pemangku kepentingan harus terus diperkuat,” ujar Rano.
Dia juga mendorong penguatan kerja sama intelijen dengan negara lain untuk memetakan jaringan penyelundupan lintas batas.
Rano menilai pengungkapan tersebut sejalan dengan pendekatan War on Drugs for Humanity yang dikembangkan BNN. Menurutnya, perang melawan narkoba tidak semata soal penangkapan dan penyitaan barang bukti, tetapi juga menyelamatkan masyarakat.
“Pada akhirnya pemberantasan narkoba bukan hanya persoalan menangkap pelaku dan menyita barang bukti, tetapi bagaimana negara menyelamatkan manusia dan menjaga masa depan generasi Indonesia,” pungkasnya.
Senada, Anggota Komisi III DPR, Bimantoro Wiyono menilai, jumlah barang bukti yang mencapai hampir 1,3 ton menunjukkan adanya ancaman serius dari jaringan peredaran gelap yang terorganisir.
“Saya mengapresiasi dan mendukung penuh langkah cepat BNN dalam pengungkapan penyelundupan hampir 1,3 ton ketamin. Ini bukan perkara kecil,” ujar Bimantoro.
Dia meminta aparat mengusut tuntas pengendali, pemodal, pemasok, penerima, hingga jaringan yang mengatur jalur distribusi.
“Jangan berhenti di pelaku lapangan. Bongkar sampai ke akar-akarnya. Siapa yang membiayai, siapa yang mengendalikan, dari mana barang ini berasal, siapa penerimanya, dan ke mana jaringan ini akan mendistribusikannya harus diungkap secara tuntas,” tegasnya.
Bimantoro juga meminta pengawasan jalur laut, pelabuhan, kawasan pesisir, serta pintu masuk barang dari luar negeri diperketat.
Menurutnya, keberhasilan menggagalkan satu pengiriman tidak boleh membuat aparat lengah. Sindikat berpotensi mencari jalur baru untuk memasukkan barang ke Indonesia.
“Kita harus memperketat pengawasan terhadap jaringan dan seluruh jalur yang berpotensi dimanfaatkan untuk penyelundupan. Jangan sampai keberhasilan hari ini hanya memutus satu pengiriman, sementara jaringan besarnya masih bebas bergerak dan mencari jalur baru,” katanya.
Bimantoro turut menyoroti kemungkinan berkembangnya modus penyalahgunaan ketamin, termasuk pencampuran ke dalam cairan rokok elektrik atau vape.
“Modusnya terus berkembang. Karena itu, pengawasan juga harus berkembang. Negara tidak boleh kalah cepat dari para sindikat narkoba,” ujarnya.
Dia mendukung langkah BNN yang mengusulkan agar ketamin dapat dimasukkan ke dalam golongan narkotika sesuai ketentuan dan berdasarkan kajian yang berlaku.
Sebelumnya diberitakan, tim gabungan mengungkap penyelundupan ketamin tersebut pada Jumat (7/8/2026).
Dalam operasi itu, petugas mengamankan delapan ABK, terdiri atas satu warga negara Taiwan berinisial TSM (43) dan tujuh warga negara Myanmar, yakni KH (29), MML (36), ML (55), PL (27), TA (51), ZO (38), serta MML (44).
Ketamin disembunyikan di dalam kompartemen tersembunyi yang berada di dekat anjungan kapal.
Petugas kemudian menemukan 65 karung berisi 1.300 bungkus teh China dengan berat total sekitar 1,3 ton. Hasil pengujian menggunakan alat Rigaku mengonfirmasi seluruh sampel positif mengandung ketamin.
(LS/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMUTBobby Nasution Sambut Kapolda Sumut Baru Irjen Sonny Irawan
Herman Saleh Harahap·20 menit yang lalu -
SUMSELDisorot soal Pernyataan “Enjoy” Saat Warga Terpapar Asap, Ini Kata Wali Kota Palembang
Herman Saleh Harahap·45 menit yang lalu -
KRIMINALDiduga Aniaya Rekan Kerja Pakai Tojok, Warga Aur Duri Diringkus Polisi
Herman Saleh Harahap·54 menit yang lalu -
NEWSBakom RI Perkuat Komunikasi Dua Arah, Utamakan Mendengar Suara Rakyat
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
NEWSMK Tolak Gugatan Denny Indrayana Terkait Pencalonan dan Ijazah Wapres Gibran
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
KRIMINALPolrestabes Medan Ungkap Peredaran Sabu dalam Bungkus Rokok
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
SUMSELBelum Puas, Gabungan Mahasiswa se-Sumsel Kembali Geruduk Kantor Gubernur
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
NEWS VIDEOPrabowo Ungkap Rp52 Triliun Kekayaan Negara Berhasil Diselamatkan Satgas PKH
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
KRIMINALKPK Periksa Ajudan Wali Kota Padangsidimpuan dan Pejabat Tapsel
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
KOTA MEDANRico Waas Dorong Kesejahteraan Nelayan Lewat Kampung Merah Putih
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan