Defisit APBN Terus Meningkat, Pemerintahan Baru Harus Perbaiki
Dengan tambahan defisit APBN tentu menambah utang baru, yang pemerintahan baru akan bayar nantinya pokok utang berikut bunganya
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) beberapa waktu lalu menyampaikan realisasi penerimaan pajak tahun 2024 hanya 97,2% dari target APBN. Padahal sebelumnya sudah tiga tahun berturut-turut mencapai target, dengan defisit APBN mencapai Rp 507,8 triliun atau 2,29% dari PDB.
Terkait ini, Anggota Komisi XI DPR Anis Byarwati menyebut Pemerintahan baru langsung mendapat beban yang cukup berat.
“Dengan tambahan defisit APBN tentu menambah utang baru, yang pemerintahan baru akan bayar nantinya pokok utang berikut bunganya,” ujarnya, Kamis (16/1/2025).
Baca Juga: Rendahnya Pendapatan jadi Tantangan Kinerja APBN 2024
Lebih lanjut, Ketua Bidang EKUIN DPP PKS ini mengungkapkan data historis defisit APBN atas Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia dari masa ke masa.
“Rata-rata defisit tahun 2000-2004 hanya -1,75%, tahun 2005-2009 pada angka -0,80%, 2010-2014 sebesar -1,58%, sementara itu di dua periode pemerintahan Jokowi defisit meningkat tajam sebesar -2,32% rata-rata sepanjang 2015-2019, dan -3,39% di 2019-2024,” jelasnya.
“Semoga pemerintah Prabowo bisa memperbaiki, karena pada rezim sebelumnya defisit selalu melonjak, bahkan di era sebelum pandemi pun, defisit meningkat tajam di atas 2%,” sambungnya.
Terkait pendapatan negara di tahun 2024, legislator dapil Jakarta ini mengomentari penyataan Kemenkeu yang menyebut pendapatan negara tumbuh positif.
Baca Juga: Prabowo Yakin Defisit APBN Tetap di Bawah 3 Persen Meski Ada Program Makan Siang dan Susu Gratis
“Padahal rasio Pendapatan Negara atas PDB secara historis terlihat tidak ada kemajuan, bahkan cenderung menurun. Pada tahun 2014 sebesar 14,57%, kemudian di 2024 Rasio Pendapatan Negara atas PDB menurun hingga 12,50%,” katanya.
Anis Byarwati yang juga Anggota Baleg DPR ini juga mengungkapkan faktor menurunnya penerimaan pajak di tahun 2024 diantaranya karena pemerintah seolah tidak berdaya menghadapi tekanan gejolak global dan turunnya harga komoditas. Sementara di dalam negeri sendiri, fundamental ekonomi nasional juga tidak kunjung membaik.
“Terjadinya deflasi selama lima bulan berturut-turut menunjukkan efek dari lemahnya daya beli masyarakat akibat pertumbuhan penghasilan yang tidak signifikan serta turunnya pendapatan masyarakat selama tahun 2024,” katanya.
“Pemerintah baru perlu menstabilkan ekonomi terlebih dahulu, agar penerimaan negara optimal, selain itu pemerintah perlu menambal kebocoran pajak seperti di sektor sawit, tambang, dan bidang sumber daya alam (SDA) lainnya,” ungkapnya.
(cw1/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMSELKapolda Sumsel Rony Samtana Ajak Doa Bersama Musibah Karhutla
Herman Saleh Harahap·57 menit yang lalu -
NEWS VIDEOKenalkan Istri hingga Anak di Acara Pisah Sambut, Kapolda Sumsel: Mohon Diterima Jadi Bagian Sumsel
Fadli Tara·1 jam yang lalu -
NASIONALPemerintah Realisasikan Penarikan Utang Rp494,3 Triliun Hingga September 2026
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
KRIMINALBelum Baca Dakwaan, Terdakwa KDRT Ditegur Hakim PN Medan
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
NEWSKetum JMSI Pamerkan Batik Ciprat Karya Anak Berkebutuhan Khusus di Markas PBB
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
KRIMINALGanjaran Pasal Berlapis Menjerat Tiga Terdakwa Narkotika
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
E-SportLibas Dewa United 2-0, NAVI Puncaki Klasemen MPL ID Season 18
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu -
EKONOMIKepala BI Sumut Dikukuhkan, Bobby Ingatkan Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu -
-
KRIMINALTiga Terdakwa Kasus Narkotika Jalani Proses Hukum, Dua Dituntut hingga 4 Tahun 10 Bulan
hendra·5 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan