Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Meluas, 4 Bandara Utama Tutup Sementara

Erupsi Gunung Anak Krakatau sebabkan penutupan 4 bandara dan sebaran abu vulkanik di Banten dan Lampung

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau di wilayah Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). (Foto: BPBD Kabupaten Serang)
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau di wilayah Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). (Foto: BPBD Kabupaten Serang)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Aktivitas erupsi (GAK) di Selat Sunda, Kabupaten Selatan, Provinsi Lampung, masih berlangsung, Minggu (6/9/2026).

Erupsi menerus ini mulai teramati pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 23.07 WIB, disertai suara gemuruh atau dentuman serta fenomena lava fountain.

Kini, perkembangan aktivitas tersebut mulai berdampak terhadap operasional penerbangan. Berdasarkan pemutakhiran status operasional bandara pada Minggu pukul 07.41 WIB, empat bandara mengalami penutupan sementara sebagai langkah keselamatan penerbangan.

"Empat bandara itu, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II dan Bandara Budiarto Curug," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.

Lebih lanjut, Berton menjelaskan, Bandara Soekarno-Hatta (CGK) ditutup pada pukul 02.08–09.30 WIB. Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) ditutup pada pukul 07.20–10.00 WIB, Bandara Radin Inten II Lampung (TKG) pada pukul 04.18–10.00 WIB, sedangkan Bandara Budiarto Curug (RTO) ditutup pada pukul 06.48–09.30 WIB.

Penutupan tersebut dilakukan sebagai langkah keselamatan menyusul sebaran di ruang udara. Status operasional masing-masing bandara dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu, kondisi ruang udara dan hasil pemantauan keselamatan penerbangan.

"Masyarakat pengguna jasa penerbangan diharapkan memantau informasi terbaru dari operator bandara dan otoritas penerbangan sebelum melakukan perjalanan," jelasnya.

Berton memaparkan, berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi menerus masih berlangsung. Pada periode pengamatan pukul 00.00–06.00 WIB tanggal 5 September 2026 tercatat satu kali gempa letusan menerus dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 21.600 detik atau sekitar enam jam.

Pada periode yang sama, pendaran merah dari aktivitas erupsi teramati secara terus-menerus, sedangkan kolom erupsi tidak selalu terlihat pada setiap periode pengamatan. Aktivitas tersebut juga disertai fenomena lava fountain dan suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran, Kabupaten Serang.

Selain pengamatan secara langsung dari pos pengamatan, perkembangan sebaran abu juga dipantau melalui satelit. Berdasarkan pemantauan Himawari dan VAAC Darwin, sebaran terpantau mencapai sekitar FL480 atau 14,6 kilometer di atas permukaan laut, dengan arah dominan ke barat hingga barat daya.

Kondisi tersebut menunjukkan sebaran abu vulkanik masih bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas erupsi serta kondisi meteorologi, terutama arah dan kecepatan angin. Karena itu, pemantauan terhadap sebaran abu terus dilakukan untuk mengantisipasi dampaknya terhadap wilayah daratan maupun ruang udara.

Di wilayah daratan, sebaran abu telah terpantau di sejumlah wilayah . Pusdalops BPBD Kabupaten Serang pada Sabtu (5/9/2026) pukul 23.00 WIB melaporkan abu vulkanik berdampak pada tujuh kecamatan, yaitu Anyer, Cinangka, Ciomas, Mancak, Pabuaran, Baros dan Padarincang. Kawasan pesisir Anyer dan Cinangka menjadi salah satu wilayah yang terdampak.

Selain dampak berupa abu vulkanik, aktivitas erupsi juga dirasakan melalui suara gemuruh atau getaran. Fenomena tersebut dilaporkan terdengar atau dirasakan di sejumlah wilayah pesisir Lampung, hingga Bandung. Di Kabupaten Serang, laporan berasal dari Kecamatan Carita, Labuan, Panimbang dan Jiput.

Menanggapi fenomena tersebut, PVMBG menduga suara gemuruh dan getaran berkaitan dengan pelepasan energi akustik dari aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau. Energi akustik yang besar dapat merambat hingga ratusan kilometer akibat kondisi atmosfer, termasuk pembiasan suara serta pengaruh suhu dan arah angin pada lapisan atmosfer bagian atas.

"PVMBG juga menyampaikan tidak terdapat aktivitas gempa tektonik signifikan di wilayah Jawa Barat yang dapat menjelaskan fenomena tersebut," sebutnya.

Pemantauan tidak hanya dilakukan di wilayah Banten, tetapi juga mencakup sejumlah wilayah di Lampung. Di Kabupaten Lampung Selatan, wilayah yang menjadi perhatian meliputi Kecamatan Punduh Pedada dan Rajabasa. Sementara di Kabupaten Tanggamus, pemantauan dilakukan di Kecamatan Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka dan Kota Agung.

Di Kecamatan Pematang Sawa, wilayah yang terdampak meliputi Desa Tampang Tua, Tampang Muda, Martanda, Kaor Gading, Way Nipah, Guring, Kampung Baru, Betung, Tanjungan dan Teluk Berak. Di Kecamatan Cukuh Balak meliputi Desa Karang Buah, Kuta Kakhang dan Pulau Tabuan. Di Kecamatan Semaka meliputi Desa Sukaraja. Sedangkan di Kecamatan Kota Agung meliputi Kelurahan Pasar Madang, Terbaya, Baros, Kuripan dan Kusa.

Meskipun sejumlah wilayah telah terpantau terdampak, kondisi masyarakat hingga pemutakhiran terakhir masih relatif terkendali. Belum terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat aktivitas erupsi. Kerugian materiil dan dampak lainnya masih dalam pendataan.

Aktivitas erupsi yang berlangsung saat ini merupakan kelanjutan dari peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak Juli 2026. Pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB terjadi erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam tebal bergerak ke arah barat laut. Seismograf mencatat amplitudo maksimum 23 milimeter dengan durasi erupsi sekitar 20 detik.

Menyusul peningkatan tersebut, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB. Status Level III (Siaga) masih berlaku hingga pemutakhiran terakhir.

Berton menerangkan, di tengah dampak terhadap transportasi udara, kondisi transportasi laut di sekitar wilayah terdampak masih relatif aman. Perairan dilaporkan tenang dan normal, sedangkan jalur penyeberangan Merak–Bakauheni belum dilaporkan mengalami gangguan.

"Meski begitu operator pelayaran dan pengguna jasa transportasi laut tetap perlu mengikuti arahan syahbandar dan instansi berwenang," tandasnya.

(zie/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait