Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita
Iklan

BMKG Sebut Dry Ice Hanya untuk Urai Asap Bukan Padamkan Api

BMKG Palembang menjelaskan dry ice dalam modifikasi cuaca ditujukan untuk mengurai kabut asap, bukan memadamkan api karhutla.

Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang Siswanto saat diwawancarai langsung di Kantor BMKG SMB II Palembang, Minggu (18/10/2026). (foto: tia/nusantaraterkini.co)
Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang Siswanto saat diwawancarai langsung di Kantor BMKG SMB II Palembang, Minggu (18/10/2026). (foto: tia/nusantaraterkini.co)
A A

Nusantaraterkini.co, PALEMBANG - Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang Siswanto meluruskan kritik netizen di media sosial terkait fungsi dry ice. Ia menyampaikan jika dry ice bertujuan mengurai kabut asap, bukan memadamkan kebakaran hutan di Palembang.

Langkah penegasan tersebut disampaikan Siswanto guna menanggapi banyaknya komentar warganet di Instagram yang keliru menganggap operasi modifikasi cuaca (OMC) berbahan dry ice digunakan untuk memadamkan titik api karhutla.

Siswanto menjelaskan, metode pemadaman karhutla yang tepat adalah OMC menggunakan garam (NaCl) untuk memicu hujan di wilayah lahan gambut yang terbakar.

"Netizen kayaknya gagal fokus. Keduanya beda konteks. OMC dengan NaCl fungsinya memitigasi karhutla dengan cara menjatuhkan hujan di lahan gambut. Kalau dry ice bukan untuk memadamkan apinya dan bukan menyerap asap, melainkan mengurai konsentrasi asap di perkotaan," ujar Siswanto kepada Nusantaraterkini.co via telepon, Rabu (21/10/2026).

Ia memaparkan, penumpukan kabut asap di Palembang terjadi karena asap terperangkap oleh lapisan inversi atmosfer yang bertindak seperti plafon penutup.

Berdasarkan pengamatan udara menggunakan radio sonde posisi lapisan inversi, Selasa (20/10/2026) merosot drastis ke ketinggian 1.000 feet (300 meter), jauh di bawah kondisi normal 3 hingga 4 kilometer.

Bahkan Rabu (21/10/2026) pagi, data radio sonde mencatat lapisan inversi pertama berada sangat rendah di ketinggian 465 meter dari permukaan bumi.

“Lapisan inversi itu ibarat plafon rumah. Harusnya tinggi 3-4 meter, tapi kemarin mendadak turun jadi 1 meter. Asap masuk ke situ, ya bagaimana tidak pekat karena ruang geraknya pendek,” terangnya.

Disebutkannya, fungsi utama dry ice yang disemai pesawat di atas lapisan inversi adalah merusak stabilitas lapisan penudung tersebut agar sinar matahari masuk dan memicu proses konveksi.

Proses pengangkatan konvektif tersebut akan membawa partikel polutan kabut asap naik ke atmosfer yang lebih tinggi, sehingga terurai dan meningkatkan jarak pandang (visibility).

Ia menyebut dari hasil evaluasi uji coba hari kelima, penaburan dry ice terbukti ilmiah meningkatkan jarak pandang di area bandara dan menekan kadar polutan PM2,5 serta PM10.

Meskipun akar masalah utama adalah karhutla di puncak kemarau, intervensi dry ice tetap harus diambil sebagai langkah darurat guna memitigasi dampak sekunder pada sektor transportasi dan kesehatan masyarakat.

“Kalau sakit komplikasi, apa iya didiamkan saja? Tentu harus ada yang diobati pusingnya dulu. Akar masalahnya karhutla, tapi dampak sekunder asap di Palembang ini harus dimitigasi. Dari data ilmiah pembanding sebelum dan sesudah, operasi dry ice ini berhasil,” pungkasnya. 

(Tia/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru