Bayi Sering Gumoh? Kenali 5 Penyebabnya dan Cara Mengurangi Risikonya
Bayi sering gumoh umumnya normal. Kenali penyebab, cara mengatasinya, dan tanda bahaya yang membuat orang tua perlu segera ke dokter anak.
Nusantaraterkini.co, MEDAN – Bayi sering gumoh merupakan kondisi yang umum terjadi, terutama pada beberapa bulan pertama setelah lahir. Meski kerap membuat orang tua khawatir, gumoh umumnya bukan tanda penyakit serius karena sistem pencernaan bayi masih dalam tahap perkembangan.
Gumoh terjadi ketika ASI, susu formula, atau isi lambung naik kembali ke kerongkongan hingga keluar melalui mulut. Kondisi ini paling sering dialami bayi berusia 1–3 bulan karena otot yang berfungsi menahan isi lambung belum bekerja secara maksimal.
Agar tidak panik, orang tua perlu mengetahui penyebab bayi sering gumoh sekaligus memahami cara mengurangi frekuensinya serta mengenali tanda-tanda yang memerlukan pemeriksaan dokter.
1. Ukuran Lambung Bayi Masih Sangat Kecil
Pada awal kehidupan, kapasitas lambung bayi masih terbatas sehingga hanya mampu menampung sedikit susu dalam sekali menyusu.
Ketika bayi minum melebihi kapasitas lambungnya, tekanan di dalam lambung meningkat. Akibatnya, susu lebih mudah mengalir kembali ke kerongkongan dan keluar sebagai gumoh.
Karena itu, bayi sebaiknya diberi ASI atau susu dalam porsi kecil tetapi dengan frekuensi lebih sering.
2. Katup Antara Kerongkongan dan Lambung Belum Sempurna
Penyebab lain bayi sering gumoh adalah otot sfingter esofagus yang masih lemah. Otot ini berfungsi sebagai katup agar isi lambung tidak kembali naik ke kerongkongan.
Karena belum berkembang sempurna, susu lebih mudah keluar saat bayi selesai menyusu, menangis, batuk, atau bergerak terlalu aktif. Seiring bertambahnya usia, fungsi katup ini akan semakin baik sehingga gumoh biasanya berkurang.
3. Bayi Menyusu Terlalu Banyak Sekaligus
Memberikan susu dalam jumlah terlalu banyak dalam satu waktu juga dapat memicu gumoh.
Saat lambung bayi terlalu penuh, tekanan di dalamnya meningkat sehingga isi lambung lebih mudah terdorong keluar. Kondisi ini dapat terjadi baik pada bayi yang menyusu langsung maupun menggunakan botol.
Orang tua disarankan mengenali tanda lapar bayi agar tidak memberikan susu secara berlebihan setiap kali bayi menangis.
4. Posisi Menyusu Kurang Tepat
Posisi menyusui turut memengaruhi risiko gumoh.
Jika kepala bayi sejajar atau lebih rendah daripada perut, susu lebih mudah naik kembali ke kerongkongan. Oleh sebab itu, usahakan posisi kepala bayi sedikit lebih tinggi saat menyusu agar gravitasi membantu menjaga isi lambung tetap berada di tempatnya.
5. Bayi Menelan Terlalu Banyak Udara
Udara yang ikut tertelan saat menyusu juga dapat menjadi penyebab bayi sering gumoh.
Hal ini biasanya terjadi karena pelekatan mulut bayi kurang tepat, aliran dot terlalu deras, atau bayi minum terlalu cepat. Udara yang terperangkap di lambung akan meningkatkan tekanan sehingga susu lebih mudah keluar kembali.
Membantu bayi bersendawa setelah menyusu dapat mengurangi risiko gumoh akibat udara yang tertelan.
Cara Mengurangi Gumoh pada Bayi
Sebagian besar kasus gumoh akan membaik dengan sendirinya seiring perkembangan sistem pencernaan bayi. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi frekuensinya:
- Susui bayi dengan posisi kepala sedikit lebih tinggi daripada tubuhnya.
- Berikan ASI atau susu formula dalam porsi kecil tetapi lebih sering.
- Bantu bayi bersendawa setelah selesai menyusu.
- Gendong bayi dalam posisi tegak selama 20–30 menit setelah menyusu.
- Hindari mengajak bayi bermain atau bergerak terlalu aktif segera setelah minum susu.
Kapan Gumoh Harus Diwaspadai?
Walaupun tergolong normal, gumoh perlu mendapat perhatian apabila disertai gejala tertentu. Orang tua sebaiknya segera membawa bayi ke dokter apabila mengalami kondisi berikut:
- Muntah menyembur atau muntahan berwarna hijau, cokelat, maupun bercampur darah.
- Bayi tampak lemas, sulit menyusu, atau berat badan tidak bertambah.
- Gumoh disertai sesak napas, napas cepat, atau bibir membiru.
- Bayi terus menangis, tampak kesakitan, atau perut terlihat membesar.
Jika gumoh terjadi sangat sering, tidak kunjung membaik, atau membuat orang tua merasa khawatir, segera konsultasikan dengan dokter anak. Pemeriksaan lebih lanjut dapat memastikan apakah gumoh masih tergolong normal atau merupakan tanda adanya gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan khusus.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMSELProgram Minggu Kasih, Kapolda Sumsel Serap Aspirasi Jemaat Gereja HKBP dan Serahkan Sarana Kontak Pengaduan
Rozie Winata·2 menit yang lalu -
SUMSELLRT Sumsel Sedot APBN Rp300 Miliar per Tahun, Gubernur Sebut ‘Wajar’
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
INTERNASIONALDarurat Kemanusiaan, 70.000 Tenda Pengungsi di Gaza Terendam Banjir Ekstrem
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMUTKA Sribilah Utama Berhenti di Stasiun Lima Puluh dan Perbaungan Mulai 1 Desember 2026
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SUMSELIntegrasi Pelabuhan Tanjung Carat dan Boom Baru Jangan Saling Mematikan
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
PERISTIWAHelikopter Water Bombing BNPB Jatuh di Sungai Barito, Seluruh Kru Selamat
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
OLAHRAGAManchester City Telan Tiga Kekalahan Beruntun, Enzo Maresca Siapkan Evaluasi Menyeluruh
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
-
INTERNASIONALPresiden Israel Tunjuk Saingan Netanyahu Bentuk Pemerintahan Baru
Herman Saleh Harahap·5 jam yang lalu -
NEWSDisindir Said Didu soal LSP, Habiburokhman Singgung Doktrin Perkalian Nol
Herman Saleh Harahap·5 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan