Abdul Mu’ti Kembalikan Kurikulum IPA, IPS dan Bahasa, Warganet: Pendidikan Tergantung Menterinya
Kenapa sih anjir pendidikan indo tuh harus tergantung menterinya, ganti menteri ganti model kurikulum, nerapinnya jg butuh waktu
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Menteri Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Republik Indonesia Kabinet Merah Putih Prof. Abdul Mu'ti kembalikan kurikulum IPA, IPS dan Bahasa.
Hal itupun tersebar luas di media sosial (Medsos) dan menjadi viral di kalangan warganet X.
Postingan yang diunggah @tanyarlfes ini mendapat 1,7 tayangan, seribu komentar, 4 ribu orang yang meretweet, 41 ribu suka dan seribu orang yang menyimpan postingan ini.
Baca Juga: Komisi X Minta Pemerintah Perlu Kaji Matang Usulan Pemberlakuan Kembali Jurusan di SMA
Dalam postingan tersebut, sang pemilik akun menampilkan foto Prof. Abdul Mu’ti dengan sepenggal kalimat “Menteri Pendidikan Kembalikan IPA, IPS dan Bahasa, Tinggalkan Kurikulum Nadiem”.
Warganet X pun banyak yang melontarkan cuitannya.
@_alexiaaaa1_
sekalian pak kembaliin sistem zonasi tp pakai nilai ujian kl mau masuk smp sma, biar otaknya pada mikir ga seenak jidat kaya sekarang ini....biar ada kerja kerasnya juga
@irenedibacayrin
Kenapa sih anjir pendidikan indo tuh harus tergantung menterinya, ganti menteri ganti model kurikulum, nerapinnya jg butuh waktu gak yg jreng auto berubah sistemnya giliran tu sistem udah merata menterinya ganti lagi dan ntar berubah lagi sistemnya anjg
@sepiberbisik
Kurikulum nadim tuh keren di presentasi doang, realitanya? Guru bingung, murid tambah stres, output? Zonkk. Akhirnya ada yg berani rem! Balikin ipa, ips, bahasa tuh bukan mundur, tapi sadar arah.
Baca Juga: Mendikdasmen Tak Larang Study Tour, Komisi X: Jangan Hanya Jadi Ajang Rekreasi
Edukasi bukan ajang trial error tiap ganti menteri. Anak sekolah bukan kelinci percobaan! Cukup deh drama ‘merdeka’ yg gak ngebentuk fondasi. Udh saatnya belajar bener, bukan sibuk ngisi portofolio palsu
@wynnnei
sistem labil gini, guru dituntut harus fleksibel sedangkan kesejahteraannya aja masih di kesampingkan gitu ko mau generasi emas
@detektifsejaht1
Ganti menteri ganti kebijakan...gimana mau jejeg pendidikan anak2 Indo kalo begini... Belum ganti kurikulum ganti buku pelajaran juga.... Yg bingung bukan cuma guru...orang tua Dan siswa juga ikut bingung…
@petricious
Ganti mentri ganti Kurikulum gitu2 aja, better memperbaiki kurikulum yang ada biar lebih baik kaya di negara2 maju & tingkatkan gaji para pendidik krn udh miris bgt, ini malah dibuat era mundur lagi hadehh.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfan menyoroti pemberlakuan kembali jurusan IPA, IPS dan Bahasa di Sekolah Menengah Atas. Ia memandang bahwa rencana pemberlakuan kembali sistem penjurusan tersebut perlu dikaji secara matang dan menyeluruh sebelum hal tersebut diterapkan.
“Komisi X memandang agar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melakukan evaluasi berbasis data, serta menyampaikan kajian akademik dan empiris tentunya mengenai hal urgensi dan efektivitas penjurusan sejak Kelas 10. Salah satu perhatian utama adalah pada aspek perkembangan peserta didik,” ungkapnya dalam keterangan video yang diterima Parlementaria, di Jakarta, Selasa (15/4/2025).
Menurutnya, di usia SMA, khususnya di Kelas 10, siswa masih berada dalam masa eksplorasi minat dan bakat. Sehingga, memberikan penjurusan sejak dini dikhawatirkan akan membatasi ruang belajar mereka, dan memaksa pilihan yang belum tentu sesuai dengan potensi jangka panjang.
“Kurikulum Merdeka yang sudah diterapkan terlebih dahulu juga menghapus penjurusan di SMA oleh Menteri Nadiem. Pada tahun ajaran 2022 yang lalu, sekitar 50 persen data Satuan Pendidikan menerapkan kurikulum Merdeka. Dan kini pada tahun ajaran 2024, tingkat penerapan kurikulum Merdeka sudah mencapai 90-95%. Artinya apa? Ini untuk SD, SMP, SMA, dan SMK," tuturnya.
Namun, kebijakan tersebut justru akan berbalik pada kebijakan untuk pemberlakuan kembali penjurusan ini. Artinya, ia menegaskan, konsistensi arah kebijakan pendidikan nasional juga harus diperhatikan. Karena perubahan yang terlalu cepat tanpa jeda transisi yang memadai akan membingungkan Satuan Pendidikan dan melemahkan proses implementasi di lapangan.
Bagaimana menurut kalian perihal kurikulum yang sudah lama hilang dan kini kembali lagi?
(Akb/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
PERISTIWABikin Sesak! Kabut Asap Kepung Seluruh Wilayah Palembang, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya
Rozie Winata·5 menit yang lalu -
PERISTIWA178 Orang Sakit Usai Santap Nasi Kotak, Nurhadi Desak Sistem Vendor RSUD Dr Soetomo Dibongkar
Rozie Winata·16 menit yang lalu -
SUMUTSertijab Irwasda Polda Sumut, Kapolda Tekankan Penguatan Pengawasan dan Akuntabilitas Polri
Rozie Winata·23 menit yang lalu -
EKONOMIIHSG Masih Dibayangi Aksi Jual Asing, Ini Saham yang Layak Dicermati Hari Ini
hendra·43 menit yang lalu -
KRIMINALPolisi Bekuk Pelaku Pembobolan Ruang Guru SMP Muhammadiyah 3 Palembang
Rozie Winata·49 menit yang lalu -
EKONOMIDPR Desak Pemerintah Perkuat Perlindungan UMKM dari Impor Ilegal dan Persaingan Tidak Sehat
Rozie Winata·59 menit yang lalu -
SUMSELPemprov Sumsel Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Selama Sebulan, Warga Diimbau Manfaatkan Diskon dan Bebas Denda
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SEPAKBOLAKejar Agresivitas Gol, John Herdman Optimis Bawa Indonesia ke Final ASEAN Cup 2026
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMUTPemko Padangsidimpuan dan Satgas PRR Genjot Percepatan Rekontruksi Pascabencana
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
INTERNASIONALKrisis Demografi: Populasi Jepang Anjlok 2,5 Persen dalam Sensus Terbaru
Rozie Winata·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan