8 Juta Warga AS Gelar Aksi ‘No Kings’, Protes Besar-besaran Tolak Pemerintahan Trump
Aksi 'No Kings' pecah di 50 negara bagian AS. 8 juta orang turun ke jalan protes kebijakan dan ekonomi Trump
Nusantaraterkini.co, WASHINGTON - Sebanyak 8 juta warga Amerika Serikat (AS) diperkirakan turun ke jalan dalam aksi nasional ketiga “No Kings” (Tidak ada raja), untuk menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan Trump, Sabtu (28/3/2026) waktu setempat.
Unjuk rasa tersebut dilaksanakan di semua 50 negara bagian AS serta 16 negara lainnya, sehingga menandai salah satu aksi protes paling terkoordinasi sepanjang sejarah negara itu.
Pelaksana aksi, yang mencakup ormas anti-otoritarianisme Indivisible dan 50501, kemudian serikat pekerja, dan perkumpulan akar rumput lainnya, melaporkan lebih dari 3.000 aksi demonstrasi berlangsung di seantero AS.
Menurut laporan media setempat, protes "No Kings" sebelumnya pada Oktober 2025 diikuti 7 juta pengunjuk rasa di seluruh AS.
Demonstrasi tersebut dilangsungkan di tengah anjloknya tingkat kepuasan publik terhadap Trump, ditambah dengan sejumlah pendukung garis kerasnya yang turut mengungkapkan rasa frustrasi.
Keluhan yang disoroti pengkritik Trump dalam unjuk rasa kali ini antara lain konflik dengan Iran yang menewaskan 13 personel AS, kenaikan harga barang dan minyak, tarif impor yang berdampak pada barang sehari-hari, dan antrean pemeriksaan keamanan di bandara yang mengular akibat kebuntuan pembahasan anggaran.
Menurut Washington Post, ribuan orang berkumpul di depan Gedung Capitol negara bagian Minnesota untuk aksi utama protes "No Kings" yang disebut oleh pendiri ormas Indivisible Ezra Levin sebagai "protes terbesar dalam sejarah Minnesota".
Sementara di Washington DC, belasan ibu dari Palestina melakukan unjuk rasa di depan tugu Lincoln Memorial dengan mengibarkan bendera Palestina raksasa, menurut The Guardian.
"Sebagian besar rakyat Amerika tak tahu bahwa uang pajak kita digunakan untuk menyubsidi aksi kekerasan," kata seorang pengunjuk rasa, Hazami Barmada (43), sebagaimana dilaporkan The Guardian dikutip via Antara, Minggu (29/3/2026).
"Hal ini terjadi ketika banyak rakyat Amerika tak dapat membayar tempat tinggal, susu, sekolah, ataupun layanan kesehatan. Harga-harga naik ketika kita berperang dalam perangnya Israel," sambungnya.
Sementara itu, CNN melaporkan adanya unjuk rasa tandingan di sejumlah titik, seperti di West Palm Beach, Florida, di mana sekitar 50 pendukung Trump dengan topi "Proud Boys" berhadapan dengan pengunjuk rasa "No Kings".
Koalisi "No Kings" menekankan bahwa aksi unjuk rasa mereka adalah tanpa kekerasan, dengan semua bentuk senjata dilarang dan pemimpin aksi diberi latihan deeskalasi konflik.
Adapun pada unjuk rasa "No Kings" pertama pada Juni 2025, seorang pengunjuk rasa terbunuh dan seorang lainnya terluka oleh seorang relawan 50501 yang menembakkan senjatanya usai melihat seseorang membawa senjata api dalam unjuk rasa di Salt Lake City, Utah.
(*/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SEPAKBOLAKejar Agresivitas Gol, John Herdman Optimis Bawa Indonesia ke Final ASEAN Cup 2026
Rozie Winata·6 menit yang lalu -
SUMUTPemko Padangsidimpuan dan Satgas PRR Genjot Percepatan Rekontruksi Pascabencana
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
INTERNASIONALKrisis Demografi: Populasi Jepang Anjlok 2,5 Persen dalam Sensus Terbaru
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SUMATERA TERKINIWabup Pasaman Apresiasi Program Jemari Kejaksaan Negeri
Herman Saleh Harahap·8 jam yang lalu -
OLAHRAGAIndonesia Tempati Peringkat 13 Perolehan Medali Asian Games 2026
Herman Saleh Harahap·8 jam yang lalu -
-
-
-
SUMUTReno Francius Simanullang Resmi Emban Jabatan Sebagai Komda PMKRI Sumut-NAD
Fadli Tara·10 jam yang lalu -
NEWSGubernur Sumut Dukung Keysa Melenggang ke Miss Youth Indonesia
Herman Saleh Harahap·10 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan