Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

The Land of Human and Orangutan: Buku Etnografi tentang Relasi Manusia dan Orangutan di Sumatera Diluncurkan

Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Center (YOSL–OIC) meluncurkan sebuah karya etnografi berjudul The Land of Human and Orangut

Penyerahan simbolis buku The Land of Human Orangutan karya lima Etnografer, pada Kamis (19/6/2025). (Foto: Dok, YOSL-OIC)
Penyerahan simbolis buku The Land of Human Orangutan karya lima Etnografer, pada Kamis (19/6/2025). (Foto: Dok, YOSL-OIC)
A A

nusantaraterkini.co, MEDAN - – (YOSL–OIC) berjudul The Land of Human and Orangutan, Kamis (19/6/2025).

Buku ini disusun oleh lima etnografer: Fikarwin Zuska, Assifa Febriani, Balqis Ranadalilla, Vania Charez, dan Monika Tamba. Mereka mengangkat hubungan manusia dengan orangutan dari sudut pandang masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan primata tersebut.

Buku ini lahir dari kerja lapangan panjang para penulis di tiga daerah berbeda di Sumatera, Desa Sibulan-bulan, Tapanuli; daerah Trumon, Aceh Selatan; serta Desa Timbang Jaya dan Timbang Lawan, Kabupaten Langkat.

Mereka merekam pengalaman, cerita, dan nilai-nilai yang tumbuh dari relasi manusia dan orangutan di tengah perubahan lanskap dan tekanan zaman.

Acara peluncuran juga diisi dengan diskusi santai bersama para penulis yang berlangsung secara luring maupun daring. Berbagai akademisi dan pemerhati konservasi turut hadir, termasuk Dosen dan peneliti ekologi hutan tropis dari Universitas Sumatera Utara (USU) Onrizal. Dalam sambutannya, Onrizal mengapresiasi kerja para penulis yang berhasil meramu pengalaman lapangan dengan metode etnografi yang kuat.

Ia juga menambahkan terkait pengayaan konteks, khususnya soal narasi toponimi daerah-daerah yang dijadikan lokasi penelitian.

“Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Ada banyak hal yang belum sepenuhnya diungkap, termasuk soal asal-usul nama daerah tempat para peneliti bekerja. Itu dapat memberi nilai lebih bagi karya ini,” ujar Onrizal di kantor YOSL-OIC, Jalan Ngumbang Surbakti, Kota Medan.

Selain Onrizal, Direktur Eksekutif YOSL–OIC, Syahfrizaldi Jpang, turut memberikan sambutan. Dia menekankan bahwa konservasi bukan semata soal ekologi dan biologi, tetapi juga soal memahami manusia yang hidup berdampingan dengan alam. Ia memberi contoh kerja panjang konservasi dengan Suku Anak Dalam di Jambi.

"Itu sebagai bukti bahwa untuk memproteksi suatu kelompok, kita juga harus memproteksi ruang hidup dan pola hidup mereka," ucapnya.

Diskusi peluncuran ini juga dihadiri para pegiat dan akademisi dari berbagai lembaga, termasuk Sumatera Tropical Forest Journalist (STFJ) dan Voice of Forest.

Mereka menggarisbawahi bahwa karya semacam ini memberi contoh konkrit bagaimana ilmu antropologi dapat berkontribusi bagi konservasi, dengan menjadikan manusia sebagai aktor kunci dalam narasi pelestarian alam.

Pada akhir acara, dilakukan penyerahan simbolis buku karya para peneliti dan foto bersama sebagai penutup.

The Land of Human and Orangutan diharapkan dapat menjadi rujukan bagi para akademisi, pemerhati konservasi, maupun siapa saja yang ingin memahami lebih dalam pola relasi manusia dan orangutan di Sumatera.

(Cw7/Nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait