Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Tantangan Mengajar Sekolah Rakyat, Kepsek: Awal Masuk Siswa SMA Belum Bisa Perkalian

Kepala SRMA 7 Palembang mengungkap banyak siswa baru SMA belum bisa perkalian. Guru menghadapi tantangan literasi dasar.

Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 7 Palembang, Diana Nur Santi saat diwawancarai langsung usai acara Open House Rumah Rakyat di SRMA 7 Palembang, Minggu (28/6/2026). (foto: tia/nusantaraterkini.co)
Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 7 Palembang, Diana Nur Santi saat diwawancarai langsung usai acara Open House Rumah Rakyat di SRMA 7 Palembang, Minggu (28/6/2026). (foto: tia/nusantaraterkini.co)
A A

Nusantaraterkini.co - Kepala Menengah Atas (SRMA) 7 Palembang, membeberkan tantangan berat yang dihadapi jajaran karena mayoritas siswa baru belum bisa . Kondisi ketertinggalan literasi berhitung ini dialami oleh para anak didik yang sejatinya sudah menginjak tingkat menengah atas.

"Luar biasa, Mbak. Sebelumnya itu dalam satu kelas yang berjumlah 25 siswa, yang bisa saja cuma tiga orang," ujar Diana, Senin (29/6/2026).

Diana menerangkan jika instansinya sengaja meniadakan sistem pengujian kompetensi akademik formal pada fase penyaringan awal, karena seluruh kuota mutlak dialokasikan bagi masyarakat miskin ekstrem.

"Sistem pembelajaran agak berbeda, kenapa? Karena anak-anak ini memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Tidak ada tes potensi akademik atau tes akademik. Jadi mereka diterima sesuai dengan desil 1 dan desil 2. Di awal ada MPLS, kemudian ada masa persiapan. Pada masa persiapan ini siswa belajar membentuk karakter terlebih dahulu sehingga mereka bisa mengikuti pembelajaran selanjutnya," terangnya.

Meski demikian, Diana optimistis implementasi materi ajar yang bersandar pada standar nasional tetap mampu mendongkrak capaian nilai para siswa secara berkala.

"Materi dan kurikulumnya sama seperti . Jadi mereka cepat sekali mengejar ketertinggalan mereka, insyaallah. Luar biasa. Allah yang memberikan rahmat kepada mereka semua. Sekarang boleh dilihat medali-medali yang mereka dapat. Bagaimana perkembangan mereka belajar dengan cepat," ungkapnya.

Selain berfokus pada ilmu pengetahuan umum, manajemen asrama turut mengoptimalkan kegiatan keagamaan pada malam hari demi mengentaskan kasus buta aksara kitab suci di kalangan pelajar.

"Malam-malam itu ada kegiatan, jadi yang belum bisa baca Al-Qur'an dilatih. Ada yang sebelumnya belum bisa membaca Al-Qur'an, ada yang belum bisa mengaji, tapi Alhamdulillah sekarang sudah bisa membaca Al-Qur'an" imbuhnya.

Lebih lanjut, ia merinci jika institusi yang dipimpinnya murni menyelenggarakan khusus untuk level menengah atas, dengan kuota baru tahun ini yang disesuaikan menjadi 60 siswa akibat keterbatasan ruang hunian.

"Kalau SMA 7 , semua levelnya SMA. Kalau yang terintegrasi itu mulai dari SD, SMP, sampai SMA. Tahun ini ada 60 siswa yang diterima, kalau tahun kemarin ada 100 siswa,” jelasnya.

Terkait asrama untuk siswa, ia mengatakan jika saat ini belum ada. Akan tetapi, secepatnya akan dibangun.

“Ruangan asrama itulah yang membuat kita harus menyesuaikan dengan yang memang berhak. Kita belum ada tempat untuk asrama. Baru akan dibangun nanti bulan Agustus,” tuturnya.

Ia menegaskan kembali jika dinamika mengajar anak usia remaja yang memiliki keterbatasan kompetensi dasar merupakan sebuah ruang perjuangan yang membutuhkan komitmen luar biasa dari para tenaga pendidik di lapangan.

"Alhamdulillah, berkat doa, usaha Bapak-Ibu , dan juga rahmat Allah SWT, mereka mengalami perkembangan yang sangat baik. Memang ini menjadi tantangan yang lebih besar, tetapi itulah yang kami hadapi," pungkasnya.

(Tia/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru