Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.920 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga BI

Rupiah dibuka melemah ke Rp17.920 per dolar AS jelang keputusan BI Rate. Konflik Timur Tengah dan penguatan dolar menjadi sentimen utama.

Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Seorang pekerja tengah memperlihatkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – mengawali perdagangan Rabu (22/7/2026) dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) (BI), yang diperkirakan akan menentukan arah pergerakan domestik.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,22 persen ke level Rp17.920 per . Pada perdagangan sehari sebelumnya, mata uang Garuda berhasil ditutup menguat 0,28 persen di posisi Rp17.880 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat (), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat turun tipis 0,02 persen ke level 101,161 pada pukul 09.00 WIB. Meski demikian, dolar AS masih berada dalam tren penguatan setelah mencatat kenaikan selama empat sesi perdagangan berturut-turut.

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipicu oleh sentimen domestik, tetapi juga dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di . Eskalasi konflik kembali mengangkat dan memicu kekhawatiran bahwa tekanan global akan bertahan lebih lama.

Laporan mengenai dua kapal tanker pengangkut minyak mentah Arab Saudi yang berbalik arah di Laut Merah akibat ancaman kelompok Houthi Yaman menambah kekhawatiran pasar terhadap terganggunya jalur distribusi energi global. Di saat yang sama, militer Amerika Serikat juga mengumumkan telah menyelesaikan rangkaian serangan terhadap Iran yang berlangsung selama 10 malam berturut-turut.

Kondisi tersebut mendorong kembali naik. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,09 persen menjadi US$84,97 per barel, sementara Brent naik 1,88 persen ke level US$90,90 per barel dan sempat menyentuh US$91,99 per barel, tertinggi sejak pertengahan Juni 2026.

Dari dalam negeri, perhatian investor kini tertuju pada hasil RDG yang dijadwalkan diumumkan siang ini. Pertemuan tersebut berlangsung selama dua hari, yakni 21–22 Juli 2026.

Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral masih akan melanjutkan kebijakan moneter yang ketat guna menjaga stabilitas .

Berdasarkan jajak pendapat terhadap 14 institusi keuangan, delapan responden memprediksi BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,00 persen. Sementara enam responden lainnya memperkirakan BI tetap mempertahankan di level 5,75 persen.

Apabila skenario kenaikan suku bunga terealisasi, maka langkah tersebut akan menjadi pengetatan moneter keempat sepanjang 2026, setelah BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin sejak Mei.

Ekonom CIMB Niaga, Mika Martumpal, menilai kenaikan masih diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya risiko geopolitik global.

Sementara itu, Chief Economist Valbury Asia Futures, Fikri C. Permana, menilai kebijakan tersebut juga bertujuan meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di tengah ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve).

Menurutnya, kombinasi volatilitas nilai tukar rupiah, potensi pengetatan kebijakan moneter global, serta kebutuhan menjaga arus modal asing menjadi alasan kuat bagi BI untuk mempertahankan sikap hawkish dalam kebijakan moneternya.

(Dra/nusantaraterkini.co).

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru