Konflik Timur Tengah Masih Membara: Hegemoni Israel, Peran Iran dan Board of Peace Donald Trump
Analisis mendalam nasib Palestina, ketahanan militer Iran, dan dampak Board of Peace Trump bagi Timur Tengah
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Terwujudnya perdamaian di kawasan Timur Tengah dinilai masih sulit lantaran sikap kolonialisme Israel menyebabkan perang tanpa henti baik dalam pencaplokan Palestina dan serangan ke Iran.
Hal ini diperparah dengan ambisi Amerika untuk memainkan aktor dominan di Timur Tengah dengan menghadirkan Board of Peace (BOP).
Selain itu, kehadiran Iran dengan kekuatan militernya ternyata tidak bisa dikalahkan, meski sudah diserang selama dua bulan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Kondisi perang regional inilah yang menyebabkan keinginan untuk Palestina merdeka semakin sulit, apalagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump memunculkan Board of Peace yang tidak menyertakan wakil Palestina.
Demikian yang menjadi salah satu perspektif dari empat pembicara dalam Webinar Internasional bertajuk Understanding Contemporary Middle East Dynamics: Israeli Colonialism in Palestine, Gulf Strategic Policies, and Iran’s Nuclear Trajectory yang diselenggarakan Asia Middle East for Research and Dialogue (AMEC), Rabu (13/5/2026).
Webinar yang dibuka oleh Direktur Eksekutif AMEC Dr. Muslim Imran dihadiri sekitar 30 orang sebagian dari Malaysia dan dimoderatori alumni Cambridge University Inggris, Mumtaza Chairannisa.
Prof M. Hamdan Basyar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memfokuskan kepada perkembangan Palestina yang merupakan sumber instabilitas Timur Tengah karena genosida Israel dan pengusiran bangsa Palestina.
Dengan menempatkan Gaza di Bawah pengelolaan Board of Peace-nya Donald Trump dan didukung Resolusi PBB, secara efektif kawasan ini berada dalam Perwalian Baru atau protektorat modern.
Prof Hamdan Basyar menambahkan, kerangka kerja yang diusulkan dalam resolusi ini sangat ambisius: gencatan senjata permanen, rekonstruksi besar-besaran, dan yang paling penting, pembentukan pemerintahan transisi internasional melalui Board of Peace dan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF).
Secara eksplisit, resolusi ini menangguhkan peran Otoritas Palestina (PA) di Gaza hingga mereka menyelesaikan program reformasi yang dianggap “memuaskan.”
Namun Prof Hamdan Basyar memaparkan, pemerintahan sehari-hari nanti akan dijalankan oleh sebuah komite teknokrat Palestina di bawah pengawasan ketat BoP, sebuah badan yang dipimpin oleh tokoh politik Amerika, Donald J. Trump, sebuah representasi dramatis dari dominasi kepentingan eksternal.
Jalan menuju kemerdekaan Palestina yang diakui sebagai sebuah “aspirasi” dibuat sangat bersyarat, bergantung pada penilaian subjektif kekuatan-kekuatan luar.
Prof. Hamdan Basyar mempertanyakan, bagaimana tata kelola, keamanan, dan arsitektur politik-ekonomi yang diusulkan oleh Resolusi 2803 (2025) memengaruhi prospek terwujudnya negara Palestina yang berdaulat, merdeka, dan mandiri, terutama jika dilihat melalui lensa kegagalan historis dan fragmentasi struktural yang ada?
Sementara, mengenai situasi Timur Tengah yang masih jauh dari perdamaian ini, Duta Besar Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan (2012-2026) Dian Wirengjurit menyoroti Israel yang beroperasi di bawah klaim ancaman eksistensial, dengan membingkai postur militernya sebagai sesuatu yang pada dasarnya bersifat defensif.
Namun, ketika diperiksa secara komparatif, khususnya terhadap Iran, yang secara serupa memposisikan dirinya sebagai kekuatan minoritas di lingkungan regional yang tidak bersahabat, justifikasi ini menjadi semakin sulit untuk dipertahankan.
Berbeda dengan Iran, jelas Dian, Israel telah terlibat secara terus-menerus dalam konflik militer aktif, baik secara ofensif maupun defensif, terhadap berbagai aktor di seluruh kawasan.
Iran, kata Dian, meskipun memiliki retorika revolusioner dan keterlibatan melalui jaringan proksinya, tidak menunjukkan tingkat agresi militer langsung yang sama terhadap mayoritas regional.
Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan kritis mengenai apakah perilaku militer Israel benar-benar mencerminkan kebutuhan defensif, atau justru mencerminkan agenda yang jauh lebih luas dan melampaui sekadar upaya mempertahankan diri.
Menyinggung soal pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang akan segera berlangsung, pertemuan itu menunjukkan Presiden Amerika Serikat sudah kehilangan daya tawar setelah ditinggalkan sekutunya di Eropa dan Arab dibandingkan dengan Tiongkok. Oleh sebab itulah pertemuan tersebut akan ikut memengaruhi perkembangan Timur Tengah selanjutnya.
Sementara, Pizaro Gozali Idrus, wartawan dan Peneliti AMEC menjelaskan, negara-negara Teluk karena konflik Iran-Amerika Serikat berada di sisi Amerika dan menjadi target serangan rudal Iran berusaha untuk mencari solusi yang aman bagi mereka meski tidak mudah.
Pizaro menjelaskan, alih-alih mengandalkan kekuatan militer AS untuk menekan para pesaingnya, negara-negara Teluk mulai mengadopsi pendekatan yang lebih mandiri.
Pizaro mencatat, adanya upaya normalisasi hubungan dengan Iran. Kesepakatan antara Arab Saudi dan Iran, yang dimediasi oleh Tiongkok, menunjukkan bahwa negara-negara Teluk mampu menangani konflik regional tanpa campur tangan Washington, tuturnya.
Demikian juga, katanya, terjadinya pengurangan eskalasi konflik. Upaya untuk mengakhiri perang di Yaman dan memulihkan hubungan diplomatik dengan Qatar (setelah blokade) mencerminkan pergeseran menuju rekonsiliasi regional.
Selanjutnya juga muncul perluasan aliansi geopolitik. Arab Saudi, Mesir, Pakistan, dan Turki telah mulai memperkuat aliansi militer di tengah tindakan Israel dan AS di Timur Tengah. Namun upaya negara-negara Teluk untuk tidak tergantung ke Amerika Serikat tidaklah mudah.
Pizaro mencatat beberapa hal. Pertama, berupa tekanan balasan dari Amerika Serikat karena Washington tampaknya tidak akan membiarkan sekutu-sekutunya yang telah lama menjalin hubungan untuk dengan mudah berpindah haluan.
Lalu sejauh ini, Tiongkok dan Rusia belum menunjukkan kemauan atau kemampuan untuk bertindak sebagai penjamin keamanan militer di Teluk, menggantikan Amerika Serikat jika terjadi konflik terbuka.
Faktor lainnya, jelas Pizaro, adanya persaingan di antara negara-negara Teluk dan ketergantungan struktural pada tenaga kerja asing.
Sedangkan dalam analisisnya, Abdolreza Alami yang merupakan Co-Founder Director of Asia West-East Centre (AsiaWE) di Malaysia, asumsi bahwa Iran ambruk, Hamas melemah, Hizbollah tertekan dan Suriah pecah tidak terbukti setelah perkembangan konflik dua bulan ini.
Realitasnya jaringan regional perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel masih bertahan demikian juga Iran masih bertahan. Selain itu, adanya posisi Iran yang strategis secara geografis memperkuat kehadirannya di Timur tengah.
Iran memiliki karakteristik khusus dimana secara geografis lokasinya yang sulit ditembus, namun memiliki akses maritim dan memiliki rute perdagangan yang tidak bisa dihilangkan.
Dengan kata lain Iran memiliki posisi geografi yang menguntungkan, kekuatan senjata yang menjadi daya penggetar musuh serta memiliki jaringan perdagangan multi jalur tida hanya laut tetapi juga darat.
Dalam proposal seminarnya ini, AMEC yang merupakan organisasi think thank Asia Tenggara, menyatakan bahwa Timur Tengah telah lama menjadi pusat konflik global yang kompleks dan berlapis, yang mencerminkan interaksi sejarah kolonial, persaingan geopolitik, identitas ideologis, serta kepentingan ekonomi dan keamanan global.
Konflik-konflik ini tidak dapat dipahami secara terpisah; sebaliknya, konflik-konflik tersebut harus dianalisis sebagai hasil dari faktor-faktor struktural yang saling terkait di tingkat domestik, regional, dan internasional.
Dalam konteks ini, konflik Israel-Palestina, dinamika keamanan Teluk, dan persaingan antara Iran dan Israel mewakili aspek utama dari krisis multidimensional yang sedang berlangsung.
(Akb/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
PERISTIWADemo DPRD Sumut, KAMMI Soroti Seleksi KPID dan Alokasi Dana Reses
Rozie Winata·7 menit yang lalu -
POLITIKNusron Wahid Akui Mundur dari Kepengurusan Golkar, Alasan Diserahkan ke Bahlil
Rozie Winata·19 menit yang lalu -
KRIMINALKurir 100 Pod Getar di Medan Ditangkap, Polisi Buru Pemasok
Rozie Winata·26 menit yang lalu -
KRIMINALCekcok Biaya Anak Berujung Maut, Istri di OKI Tusuk Suami PNS hingga Tewas
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SUMSELBPBD Sumsel Kerahkan Helikopter Water Bombing Padamkan Karhutla Puluhan Hektare di OKI dan Muara Enim
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
NEWS VIDEOHotel di Bali Berguguran, DPR Soroti Tiket Mahal hingga Infrastruktur
Fadli Tara·2 jam yang lalu -
KRIMINALBawa 480 Gram Sabu dari Medan ke Aceh, Penumpang Travel Ditangkap
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
KRIMINALKasus Penganiayaan Tokoh Pers oleh Oknum Polisi Masih Berlanjut di Polres Padangsidimpuan
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
ENTERTAIMENTKartika Ong Perjalanan Hidup Dibalut jadi Lirik Lagu, Aku Bukan Yang Hilang
Akbar·3 jam yang lalu -
KOTA MEDANStrategi Pemko Medan Optimalkan PAD dan Infrastruktur dalam R-APBD Perubahan 2026
Rozie Winata·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan