Harapan Negosiasi Iran-AS Tekan Harga Minyak
Harga minyak turun setelah Iran ajukan negosiasi ke AS, namun konflik Timur Tengah dan ketegangan di Selat Hormuz masih memicu volatilitas pasar.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan pada Jumat (1/5/2026), setelah muncul sinyal baru dari Iran yang membuka peluang negosiasi dengan Amerika Serikat. Meski begitu, pasar energi global masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik yang belum sepenuhnya mereda.
Berdasarkan laporan Reuters, kontrak minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Juli ditutup di level USD 108,17 per barel, turun sebesar USD 2,23 atau sekitar 2,02 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah ke USD 101,94 per barel, turun USD 3,13 atau 2,98 persen.
Penurunan ini dipicu oleh kabar bahwa Iran telah mengajukan proposal baru terkait perundingan dengan Amerika Serikat melalui mediator dari Pakistan. Informasi tersebut disampaikan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA.
Langkah diplomatik ini dinilai memberikan harapan bagi pelaku pasar bahwa ketegangan antara kedua negara dapat mereda, sekaligus membuka jalan menuju penyelesaian konflik yang selama ini menekan stabilitas pasokan energi global.
Namun demikian, harga minyak masih menunjukkan tren kenaikan dalam sepekan terakhir, dengan Brent dan WTI masing-masing berpotensi naik sekitar 2,95 persen. Bahkan sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh USD 126,41 per barel—level tertinggi sejak Maret 2022—sebelum akhirnya terkoreksi.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Dampaknya, jalur vital energi dunia, Selat Hormuz, sempat ditutup sehingga mengganggu sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair global.
Walaupun gencatan senjata telah diberlakukan sejak 8 April, situasi di lapangan masih rapuh. Sejumlah pihak, termasuk pejabat Uni Emirat Arab, meragukan komitmen Iran dalam menjaga stabilitas kawasan, khususnya terkait akses di Selat Hormuz.
Analis pasar menilai fluktuasi harga minyak saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik. Selama belum ada kepastian mengenai arah penyelesaian konflik, pergerakan harga diperkirakan akan tetap volatil.
Di sisi lain, ancaman dari pihak militer Iran terhadap Amerika Serikat turut memperkeruh suasana. Pernyataan tersebut sempat mendorong lonjakan harga minyak secara intraday sebelum akhirnya kembali turun menjelang penutupan perdagangan.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dijadwalkan menerima laporan khusus terkait opsi langkah militer lanjutan terhadap Iran pada 6 Mei mendatang. Hingga kini, belum ada rincian resmi yang diumumkan terkait rencana tersebut.
(Dra/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KOTA MEDANSakit Hati Ditalak, Istri Laporkan Suaminya ke Poldasu
Herman Saleh Harahap·5 menit yang lalu -
NEWS VIDEOTarget Semifinal FIFA ASEAN Series, Habib Syarief Soroti Regenerasi dan Strategi Timnas
Fadli Tara·29 menit yang lalu -
SUMSELDiselimuti Asap Karhutla, Kualitas Udara Palembang Kembali Masuk Zona Merah
Rozie Winata·32 menit yang lalu -
NASIONALNanan Desak Investigasi Dugaan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong Dibuka Transparan
Rozie Winata·54 menit yang lalu -
KRIMINALDirektur Reskrimum Ungkap Alasan Panggil Ketua DPRD Sumut Terkait Kasus Dhody Thahir
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
-
SUMUTJaga Kondusifitas dan Keamanan, PN Sibolga Tunda Eksekusi Perkara Perdata
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMSELProgres Tol Betung-Jambi Seksi 1A Tembus 69 Persen, HKI Genjot Percepatan Konstruksi
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
EKONOMIKasus Peretasan US$351,6 juta di Bitget, Pengamat Kripto: Alarm Serius Keamanan Bursa Aset Digital
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
EKONOMIHarga Emas Antam Turun Rp15 Ribu Menjadi Rp2.590.000 Per Gram, Cek Lengkapnya
Rozie Winata·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan