Bulog: Cuaca dan Minimnya Dryer Hambat Penyerapan Gabah di Sumsel
Bulog Sumsel sebut keterbatasan mesin dryer dan faktor cuaca hambat penyerapan gabah petani saat panen gadu
Nusantaraterkini.co, PALEMBANG - Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) dan Bangka Belitung (Babel) mengungkapkan, proses penyerapan gabah petani di tengah masa panen gadu saat ini menghadapi kendala teknis.
Hal itu terjadi akibat cuaca yang tidak menentu dan terbatasnya sarana pengering (dryer) di wilayah sentra produksi.
“Kendala dalam penyerapan tetap ada, terutama di wilayah sentra produksi yang masih menggunakan lantai jemur karena sarana dryer masih terbatas,” ujar Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel, Ihsan, Kamis (23/4/2026).
Ihsan menjelaskan, lantai jemur konvensional mengakibatkan proses pengeringan gabah menjadi lebih lama, serta berisiko menurunkan kualitas mutu beras yang dihasilkan.
“Penggunaan lantai jemur yang masih dominan membuat gabah lebih lama kering saat cuaca mendung. Jika kadar air sudah di bawah 18 persen, gabah hanya dapat disimpan sementara sebelum dikeringkan kembali hingga mencapai standar 14 persen,” jelasnya.
Kondisi musim hujan juga menjadi hambatan tersendiri, karena petani cenderung mengurangi intensitas panen akibat lahan yang basah dapat merusak alat mesin pertanian.
Untuk menyiasati hal tersebut, para petani biasanya baru memulai aktivitas pemanenan pada siang hari guna memastikan kondisi sawah telah cukup kering sehingga alat panen tidak mengalami kemacetan saat dioperasikan.
“Biasanya petani menunggu hingga sekitar pukul 10.00 WIB atau 11.00 WIB setelah kondisi sawah mengering, agar alat tidak macet saat digunakan,” katanya.
Ihsan menyebut, panen di wilayah Sumsel berlangsung sepanjang tahun karena perbedaan waktu tanam di tiap kabupaten, sehingga ketersediaan pasokan tetap terjaga.
Oleh sebab itu, pihaknya memastikan jika ketersediaan stok beras masih mencapai 93.000 ton dan aman untuk mencukupi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun 2026.
“Untuk Sumatera Selatan stok sekitar 91.000 ton, sedangkan Sumsel dan Bangka Belitung sekitar 93.000 ton dan dinilai cukup hingga akhir tahun,” ucap dia.
(Tia/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
NEWS VIDEOMartin Hutabarat: Perubahan UUD Penting Dipahami untuk Menentukan Arah Bernegara
Fadli Tara·2 jam yang lalu -
-
KRIMINALViral Video Dugaan Bullying Siswi SMPN 12 Pematangsiantar, Polisi Langsung Turun Tangan
hendra·3 jam yang lalu -
BADMINTONDua Ganda Putra Indonesia Tembus Semifinal Asian Games 2026, Leo/Daniel Tantang Pasangan Nomor 1 Dunia
hendra·4 jam yang lalu -
INTERNASIONALTrump Tolak Proposal Iran, Teheran Masih Tunggu Jawaban Resmi soal Pembukaan Selat Hormuz
hendra·4 jam yang lalu -
-
EKONOMIKemiskinan Argentina Naik Jadi 32,3 Persen, Harga Kebutuhan Pokok Melonjak
hendra·4 jam yang lalu -
PERISTIWAMarkas OPM Egianus Kogoya di Nduga Diserang dari Udara? Ini Kata TNI
hendra·5 jam yang lalu -
SUMSELHerman Deru Beberkan Strategi Program Sultan Muda Tekan Angka Pengangguran di Sumsel
hendra·5 jam yang lalu -
INTERNASIONALSurvei Ungkap 52 Persen Warga Filipina Merasa Tak Berdaya Hadapi Korupsi
Rozie Winata·5 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan