Bahas Keresahan Bangsa, Sejumlah Tokoh dan Aktivis Bertemu di Rumah Jusuf Kalla
Sejumlah tokoh, aktivis, dan akademisi bertemu di rumah Jusuf Kalla membahas krisis kepemimpinan dan keresahan bangsa.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA-Sabtu (7/3/2026) malam, kediaman mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tidak sekadar menjadi tempat jamuan, melainkan ruang pengadilan moral bagi arah perjalanan bangsa. Para aktivis, akademisi, birokrat, hingga pengusaha dari lintas generasi berkumpul untuk melakukan "audit" atas krisis kepemimpinan yang dianggap tengah melanda tanah air.
Pertemuan strategis ini membedah kegelisahan kolektif mengenai bagaimana kekuasaan saat ini kian menjauh dari nilai-nilai integritas dan terjebak dalam pragmatisme yang dangkal. Sudirman Said, yang menginisiasi pertemuan tersebut, menyoroti adanya lubang besar dalam etika publik para pemegang kemudi negara. Ia menilai bahwa yang dibutuhkan Indonesia saat ini bukan sekadar sosok yang populer, melainkan pemimpin yang memiliki kedalaman visi dan kematangan karakter.
"Yang hilang adalah kepemimpinan intrinsik, kepemimpinan yang didasari oleh nilai-nilai luhur seperti integritas, visi, kompetensi, wisdom, and kapasitas menggerakkan perbaikan," ujar Sudirman Said.
Keprihatinan serupa juga datang dari pakar hukum Universitas Andalas, Feri Amsari. Ia melihat sosok JK sebagai jangkar pengalaman yang sangat diperlukan untuk membentengi negara dari "penyakit" kebijakan yang serba mendadak tanpa kajian matang.
Diskusi tersebut menekankan bahwa mengelola negara sebesar Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara coba-coba yang hanya mengandalkan perasaan sesaat. Dengan mengutip filosofi kepemimpinan tuan rumah yang menjadi benang merah pertemuan, Feri mengingatkan para pembuat kebijakan di Istana bahwa pemimpin tidak boleh menggunakan sebatas insting dan instan.
"Ini peringatan peringatan agar birokrasi kembali pada jalur rasionalitas yang etis," ungkapnya, seperti dilansir RMOL.
Puncak dari narasi kritis ini datang dari suara generasi muda yang diwakili oleh Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Ia membawa metafora transportasi untuk menggambarkan posisi masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan yang berhak mengoreksi jalannya pemerintahan. Tiyo menegaskan bahwa rakyat bukanlah penonton pasif, melainkan penumpang yang memiliki hak untuk bersuara demi keselamatan seluruh perjalanan bangsa.
Dengan daya ledak moral yang kuat, Tiyo merangkum posisi kritis rakyat terhadap struktur pemerintahan saat ini.
"Sopirnya Prabowo, kernetnya Gibran, awaknya menteri, rakyat sebagai penumpang layak menegur sopir," sebutnya.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
EKONOMIPergerakan Pasar Kripto 27 September: Bitcoin Bertahan, Quant Meroket 48%
Rozie Winata·15 menit yang lalu -
POLITIKGerindra Sebut Jokowi Gabung PSI Hak Politik Warga Negara
Herman Saleh Harahap·28 menit yang lalu -
SEPAKBOLAPemerintah Inggris Desak Premier League Segera Tuntaskan Kasus Manchester City
Rozie Winata·58 menit yang lalu -
-
INTERNASIONALRusia Klaim Hancurkan 25 Persen Fasilitas Internet dan Starlink Milik Ukraina
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
-
KRIMINALPolresta Deliserdang Ringkus Dua Pengedar Sabu di Pantai Labu, Sita 31 Gram Barang Bukti
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
NEWSTokoh Masyarakat Sebut Tindakan Ombudsman di Lapas Cibinong 'Offside'
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
POLITIKKetua MPR Tegaskan Tidak Gegabah dalam Mengubah UUD 1945
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
OLAHRAGAPasaman Barat Siapkan 564 Kontingen Hadapi Porprov XVI Sumbar
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan