Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Udara Palembang Masuk Kategori Berbahaya Tiga Hari Berturut-turut, PM2.5 Capai 600

Kualitas udara Palembang memburuk, PM2.5 tembus 600 µg/m³ selama tiga hari. Kabut asap disebut berasal dari karhutla Sumsel.

Konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di kawasan Musi 2 Kota Palembang menembus level berbahaya atau kategori hitam selama tiga hari berturut-turut dengan puncaknya terjadi pada waktu dini hari. (foto: tia/nusantaraterkini.co)
Konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di kawasan Musi 2 Kota Palembang menembus level berbahaya atau kategori hitam selama tiga hari berturut-turut dengan puncaknya terjadi pada waktu dini hari. (foto: tia/nusantaraterkini.co)
A A

Nusantaraterkini.co, - Konsentrasi partikulat halus () di kawasan Kota Palembang menembus level berbahaya atau kategori hitam selama tiga hari berturut-turut dengan puncaknya terjadi pada waktu dini hari.

Lonjakan terparah tercatat pada Senin, 7 September 2026 dini hari, saat konsentrasi menyentuh angka 600 mikrogram per meter kubik, diikuti status serupa pada Selasa dan Rabu dengan angka di atas 400 mikrogram per meter kubik.

“Kenaikan angka PM2.5 itu terjadi pada Senin dini hari dan Selasa dini hari. kian memburuk hingga statusnya berbahaya,” ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Wandayantolis, Kamis (10/9/2026).

Pihaknya menyampaikan jika penuaan menunjukkan tren penurunan pada siang hari, meski angkanya masih berada pada kategori tidak sehat.

“Tetapi pada Rabu angka PM2.5 mengalami penurunan, namun tetap berstatus berbahaya,” ungkapnya.

Fluktuasi konsentrasi partikulat halus tersebut mencatatkan rekor tertinggi selama periode kebakaran hutan dan lahan () di Sumsel tahun ini.

nengatakan jika pekatnya yang menyelimuti Palembang, murni dipicu oleh karhutla dan tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

“Dari monitoring dan pengecekan lapangan, tidak ada debu erupsi yang sampai ke . Asap ini sumbernya dari ,” katanya.

Kondisi sebaran asap ke area perkotaan turut dipengaruhi oleh pergerakan pola angin regional yang membawa polutan dari wilayah sekitar.

"Iya, karena memang dominan monsun Australia. Arah tiupan angin monsun tersebut mengarahkan sebaran asap karhutla dari daerah penyangga, termasuk wilayah Ogan Komering Ilir (OKI), langsung menuju wilayah Kota Palembang,” pungkasnya. 

(Tia/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru