Timur Tengah Memanas, Daya Tarik Dolar AS Sebagai Lindung Nilai Melemah
Konflik Timur Tengah ancam posisi dolar AS. Apakah tren de-dolarisasi global akan semakin cepat terjadi?
Nusantaraterkini.co, ISTANBUL - Meningkatnya ketegangan yang melibatkan Israel, Iran dan Amerika Serikat (AS) menimbulkan keraguan terhadap daya tarik tradisional aset berdenominasi dolar AS sebagai aset lindung nilai (safe-haven), karena risiko geopolitik kian memengaruhi penetapan harga aset global dan arus modal global.
Para analis pasar memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat mengikis kepercayaan terhadap aset-aset dolar AS melalui sejumlah jalur, termasuk eksposur perusahaan-perusahaan AS yang signifikan di kawasan tersebut, potensi tekanan inflasi yang dipicu energi yang bisa mengganggu kebijakan Federal Reserve (The Fed) AS, serta peningkatan kerentanan struktural di pasar keuangan AS.
Sejak eskalasi terbaru, indeks dolar AS hanya menguat secara moderat, kenaikannya pun terbatas, dan tidak semua aset berdenominasi dolar AS mendapatkan manfaat secara merata.
Menurut kutipan Reuters dari data Emerging Portfolio Fund Research yang berbasis di AS, dana obligasi pasar emerging global mencatat arus keluar bersih sekitar 1,1 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp16.967) pada pekan yang berakhir 11 Juni. Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur greenback, sebutan untuk mata uang dolar AS, terhadap enam mata uang utama, turun 0,13 persen pada 17 Juni dan ditutup di angka 99,574.
Secara khusus, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun dan 2 tahun telah meningkat baru-baru ini, menyimpang dari pola krisis yang lazim di mana imbal hasil turun, sehingga mendorong beberapa analis menyebut tren tersebut sebagai kegagalan aset lindung nilai.
Perusahaan-perusahaan AS memegang investasi langsung senilai puluhan miliar dolar AS di seluruh Timur Tengah, yang mencakup sektor-sektor seperti infrastruktur energi dan digital, sehingga membuatnya sangat rentan terhadap risiko regional.
Menurut laporan media, serangan drone baru-baru ini oleh Iran merusak dua pusat data yang dioperasikan oleh platform komputasi awan di bawah Amazon di Uni Emirat Arab, mengakibatkan pemadaman listrik dan gangguan pada beberapa layanan.
Insiden tersebut menggarisbawahi risiko yang dihadapi aset-aset perusahaan AS di kawasan itu, terutama infrastruktur digital.
Pan Xiangdong, kepala ekonom di QiLai Research Institute mengatakan kepada Xinhua, penargetan berkelanjutan terhadap infrastruktur semacam itu dapat meningkatkan premi risiko pada aset-aset perusahaan AS di Timur Tengah dan menekan valuasi, terutama di sektor teknologi.
Kekhawatiran utama lainnya adalah apakah konflik tersebut akan mengubah arah kebijakan The Fed. Sebelum eskalasi, The Fed telah mengisyaratkan potensi penurunan suku bunga di bawah tekanan dari pemerintahan AS untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, jika konflik itu mendorong harga energi global ke dalam lonjakan berkepanjangan, The Fed mungkin terpaksa menunda rencana pelonggarannya.
Menambah ketidakpastian tersebut, Patrick Minford, profesor ekonomi terapan di Cardiff Business School di Inggris, menyampaikan bahwa kepercayaan terhadap aset dolar AS juga tertekan oleh ketidakpastian kebijakan domestik.
Defisit fiskal AS yang persisten dapat mengikis kepercayaan terhadap obligasi Treasury AS jangka panjang, sementara kenaikan imbal hasil obligasi mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi dan arah kebijakan.
Sementara itu, kerentanan struktural di pasar keuangan AS semakin menjadi sorotan. Financial Times baru-baru ini melaporkan bahwa permintaan penarikan dana (redemption) untuk dana unggulan Cliffwater yang berbasis di AS melonjak hingga mencapai 14 persen dari total ukuran dananya pada kuartal pertama, jauh melampaui batas kuartalan sebesar 5 persen yang ditetapkan oleh regulator.
Perusahaan-perusahaan besar di Wall Street, termasuk BlackRock, Blackstone, Morgan Stanley, dan perusahaan kredit swasta Blue Owl, juga menghadapi gelombang penarikan dana oleh investor, yang memicu pembatasan penarikan.
Ekonom Australia Guo Shengxiang memperingatkan bahwa tekanan penarikan dana dapat memicu risiko sistemis, dengan para investor berpotensi mempercepat penarikan dana dari aset-aset berisiko lebih tinggi jika konflik terus berlanjut.
Dominasi dolar AS juga sedang menghadapi tantangan jangka panjang. Hisham Farag, profesor keuangan di Universitas Birmingham di Inggris, mengatakan bahwa negara-negara semakin memperhatikan risiko politik yang berkaitan dengan sistem dolar AS dan sedang menjajaki alternatif seperti memperluas penyelesaian transaksi dalam mata uang lokal dan mendiversifikasi aset cadangan.
Pan menambahkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat melemahkan kerangka kerja petrodolar, mempercepat de-dolarisasi, dan memicu peninjauan ulang secara struktural terhadap aset-aset berdenominasi dolar AS.
Chang Shishan, CEO Cedar FinTech Group di Timur Tengah, menyampaikan bahwa meskipun peristiwa geopolitik cenderung memicu volatilitas pasar jangka pendek, pada akhirnya modal akan mengalir ke sistem keuangan yang stabil dan efisien, sebuah dinamika yang dapat membentuk peran dolar AS dalam beberapa tahun ke depan.
(*/nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
RELIGIRibuan Warga Palembang Padati Tabligh Akbar dan Maulid Nabi Bersama UAS di Kambang Iwak
Rozie Winata·27 menit yang lalu -
EKONOMIIHSG Diprediksi Melemah Hari Ini, Analis Ungkap Saham yang Layak Dicermati
hendra·32 menit yang lalu -
KRIMINALPolres Padangsidimpuan Gagalkan Penyelundupan 10 Kg Ganja, Satu Pelaku Diringkus
Rozie Winata·52 menit yang lalu -
SEPAKBOLAJohn Herdman Sebut Skuad Garuda Belum Turun dengan Kekuatan Penuh
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
EKONOMIMichael Saylor Peringatkan Sistem Keuangan AS Harus Dibangun Ulang untuk Era AI
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
INTERNASIONALKlaim Miliki Kendali Penuh, Trump Tolak Usulan Bersyarat Iran Terkait Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NEWS VIDEOMartin Hutabarat: Perubahan UUD Penting Dipahami untuk Menentukan Arah Bernegara
Fadli Tara·9 jam yang lalu -
-
KRIMINALViral Video Dugaan Bullying Siswi SMPN 12 Pematangsiantar, Polisi Langsung Turun Tangan
hendra·10 jam yang lalu -
BADMINTONDua Ganda Putra Indonesia Tembus Semifinal Asian Games 2026, Leo/Daniel Tantang Pasangan Nomor 1 Dunia
hendra·11 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan