Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Tangis Haru Ibu dan Doa Orang Tua di Balik Sukses Peraih Adhi Makayasa 2026 ​

Tangis haru orang tua iringi pelantikan peraih Adhi Makayasa 2026. Kisah perjuangan Calvin Tidar Sakti dan Yehezkiel menginspirasi.

Halaman Istana Merdeka Jakarta menjadi saksi bisu momen bersejarah yang dipenuhi derai air mata kebahagiaan, Rabu (22/7/2026).(foto: setneg)
Halaman Istana Merdeka Jakarta menjadi saksi bisu momen bersejarah yang dipenuhi derai air mata kebahagiaan, Rabu (22/7/2026).(foto: setneg)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA—Rabu (22/7/2026) pagi, halaman Jakarta menjadi saksi bisu momen bersejarah yang dipenuhi derai air mata kebahagiaan. Di bawah terik matahari Istana, ratusan perwira muda Tentara Nasional Indonesia () dan Kepolisian Negara Republik Indonesia () berdiri tegak mengikrarkan janji pengabdian pada Upacara Prasetya Perwira (Praspa) 2026.

​Di antara barisan perwira gagah tersebut, sosok dan mencuri perhatian. Keduanya berhasil menyabet penghargaan , sebuah predikat lulusan terbaik yang menjadi impian ribuan di Indonesia.

​Namun, di balik bintang yang bersinar dan pangkat yang resmi tersemat langsung oleh , ada deretan kisah perjuangan, tawa, keringat, hingga tangis haru orang tua yang tak terlipat oleh megahnya seragam tentara.

​Dari Bocah Super Penasaran hingga Dilantik Presiden di Istana

​Siapa sangka, Yehezkiel Bonaventura Yudaniarman—peraih Adhi Makayasa dari Akademi Angkatan Udara ()—dulu adalah bocah kecil yang tak bisa diam. Ibunda Yehezkiel tak mampu membendung rasa harunya saat menyaksikan sang putra dilantik oleh orang nomor satu di Indonesia.

​Bagi keluarga Yehezkiel, melangkah ke dalam adalah pengalaman pertama seumur hidup. Apalagi, tak pernah ada riwayat anggota di keluarga mereka sebelumnya.

​"Kesannya luar biasa, jadi pengin nangis. Ini pengalaman pertama untuk keluarga kami, ini baru pertama kali yang jadi TNI, sebelumnya nggak ada. Perjuangan dia terlalu besar ya. Jadi kami bangga, saking bangganya sampai nggak bisa ngomong apa," tutur sang ibu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, seperti dikutip dari laman resmi setneg.

​Kenangan masa kecil Yehezkiel mendadak berputar kembali di benak sang ibu. Di balik sosok perwira gagah berwibawa hari ini, Yehezkiel kecil adalah anak yang sangat aktif dan punya rasa ingin tahu luar biasa.

​"Dulu dia kecilnya bandel banget, nggak bisa diam, selalu aktif, selalu bertanya ‘Kok bisa gitu?’, ‘Kenapa? Kok kayak gitu, kenapa?’ Itu pasti selalu ditanyakan ke setiap orang," kenang ibunya sambil tersenyum bangga.

​Rasa penasaran dan kedisiplinan yang ditempa selama tiga tahun di akademi akhirnya mengantarkan Yehezkiel berdiri di podium tertinggi penganugerahan Adhi Makayasa.

​

Bukan Sekadar Pangkat, Tapi Amanah Rakyat di Pundak

​Hal senada dirasakan oleh Calvin Tidar Sakti, peraih Adhi Makayasa dari Akademi Militer () 2026. Momen detik-detik Presiden Prabowo Subianto menyematkan tanda pangkat di pundaknya menjadi pengalaman berharga yang tak akan pernah ia lupakan.

​Namun, Calvin menegaskan bahwa gelar perwira terbaik bukanlah piala untuk disombongkan. Ia mengingat betul pesan mendalam yang disampaikan Presiden Prabowo saat amanat upacara.

​"Bapak Presiden menyatakan bahwa pangkat yang tertempel di pundak kami ini bukan hanya sebuah tanda kehormatan atau sebuah pangkat, tapi ini juga merupakan suatu tanggung jawab dan amanah dari rakyat kepada kami," ungkap Calvin.

​Bagi Calvin, kelulusan ini hanyalah gerbang awal. Di balik kekuatannya melewati latihan fisik yang berat, keletihan luar biasa, serta gemblengan disiplin tanpa kompromi, ada benteng terkuat yang selalu menopangnya: Doa Orang Tua.

​"Orang tua saya hanya memberikan motivasi dan juga doa. Itu merupakan salah satu tekad dan dukungan yang paling kuat dari kedua orang tua saya," tambahnya.

​Awal Perjalanan Menjaga Ibu Pertiwi

​Suka dan duka menembus batas ketahanan fisik di akademi tidak dilalui Calvin dan Yehezkiel sendirian. Kebersamaan, gelak tawa di tengah keletihan, dan rasa saling menopang antar-rekan seangkatan menjadi bahan bakar utama mereka hingga mencapai garis akhir pendidikan.

​Pangkat yang kini tersemat di pundak Calvin, Yehezkiel, dan seluruh perwira muda bukan sekadar simbol gagah-gagahan. Di dalamnya, terukir deretan doa yang dipanjatkan orang tua di setiap sepertiga malam, cucuran keringat perjuangan, serta harapan ribuan rakyat Indonesia.

​(Emn/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait