Studi Ungkap Penangkapan Berlebihan Picu Penurunan Pertumbuhan Ikan Global Sejak 1908
Studi JCU ungkap penangkapan berlebih picu penurunan pertumbuhan ikan global 9% dalam seabad terakhir
Nusantaraterkini.co, SYDNEY - Tim ilmuwan memperingatkan penangkapan ikan secara berlebihan (overfishing) dan perubahan lingkungan mengikis fondasi biologis dari banyak bidang perikanan, dengan analisis terbaru mengungkap penurunan pertumbuhan ikan secara global dalam seabad terakhir.
Tim peneliti dari Universitas James Cook (James Cook University/JCU) di Australia menganalisis hampir 7.700 catatan pertumbuhan yang meliputi 1.479 spesies laut dari tahun 1908 hingga 2021, dan menemukan penurunan kinerja pertumbuhan sejak sekitar tahun 1908, dengan penurunan terbesar terpusat pada spesies yang bernilai komersial, menurut pernyataan dari universitas itu belum lama ini.
Berbagai tekanan yang dipicu oleh aktivitas manusia menyebabkan perubahan skala besar pada ekologi dan siklus hidup ikan, tutur Helen Yan, yang memimpin studi itu sebagai bagian dari studi doktoralnya di JCU.
Tim peneliti mengukur kinerja pertumbuhan, karakteristik biologis yang menggambarkan keseimbangan antara laju pertumbuhan dan ukuran tubuh, dalam rentang waktu 113 tahun.
"Perikanan yang dikelola mengalami rata-rata penurunan kinerja pertumbuhan sebesar 9 persen dalam seabad terakhir. Ini mengindikasikan bahwa ikan tumbuh hingga mencapai ukuran yang relatif lebih kecil dan/atau dengan laju yang lebih lambat," papar Yan.
Praktik penangkapan ikan komersial berbasis ukuran, alih-alih suhu, merupakan pendorong utama pola penurunan pertumbuhan ikan global, meski perubahan iklim mungkin memperparah dampaknya, imbuh Yan.
Penangkapan ikan secara intensif meninggalkan jejak biologis yang jelas pada populasi ikan, tutur Yan, seraya menyatakan bahwa tren itu paling terlihat di wilayah-wilayah beriklim sedang di mana tekanan penangkapan ikan tercatat paling tinggi.
Tim ilmuwan memperingatkan bahwa ikan yang berukuran lebih kecil dan pertumbuhannya lebih lambat dapat mengubah jaring makanan, menurunkan hasil tangkapan, dan mempersulit upaya pemulihan, sembari menekankan perlunya pembatasan jumlah tangkapan yang lebih ketat, perlindungan ukuran dan habitat, serta pemantauan berjangka lebih panjang untuk mendeteksi perubahan biologis.
(*/nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
PERISTIWANgaku Bernama Rendi Lumbantobing, Jenazah Tanpa Identitas di RS Adam Malik Menanti Keluarga
Rozie Winata·55 menit yang lalu -
SUMUTKawasan TNBG di Madina Dimasuki Penambang Ilegal dari Sumatera Barat
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
SUMSELKurangi Gangguan Jalan Umum, Overpass Tambang Sepanjang 190 Meter Dibangun di Lahat
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
SUMUTPLN UP3 Pematangsiantar Temui Kapolres Demi Perkuat Keandalan Listrik dan Keamanan Kota
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
INTERNASIONALRisiko Pemanasan Laut, Terumbu Karang Australia Diprediksi Runtuh pada Tahun 2075
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
HUKUM DAN KRIMINALKPK Buka Peluang Periksa Bobby Nasution Terkait Kasus Proyek Jalan Sumut
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
SEPAKBOLAEks Bintang Chelsea Gustavo Poyet Prediksi Cole Palmer Bisa Capai Level Eden Hazard
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
-
HUKUM DAN KRIMINALPimpinan Komisi III DPR Apresiasi Pengungkapan Ketamin, Dorong Penelusuran Bandar Besar
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu -
INTERNASIONALAmazon Brasil Kini Lepaskan Lebih Banyak Karbon, Terancam Kehilangan Fungsi Pengatur Iklim
Rozie Winata·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan