Stok Vaksin Rabies di Sumut Kritis, Dinas Peternakan Tetap Jamin Keamanan Hewan Kurban
Stok Vaksin Rabies di Sumut Kritis, Dinas Peternakan Tetap Jamin Keamanan Hewan Kurban
Nusantaraterkini.co, MEDAN – Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sumatra Utara (Sumut) melaporkan adanya lonjakan kasus rabies di beberapa daerah. Namun, di tengah peningkatan ancaman penyakit mematikan ini, ketersediaan Vaksin Anti-Rabies (VAR) untuk hewan di tingkat provinsi justru berada dalam kondisi kritis dan menipis secara drastis.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut, Marthin Sibagariang, S.Pt., M.MA, mengungkapkan bahwa stok vaksin rabies hewan saat ini hanya tersisa sedikit.
"Memang ya kami sadari itu, sudah mulai menipis stoknya. Sekarang tinggal 500 dosis. Kondisi ini berbanding terbalik dengan tahun-tahun sebelumnya," sebutnya.
"Kalau di tahun-tahun sebelumnya memang ini vaksin-rabies" class="article-tag-link" rel="tag">vaksin rabies ini cukup banyak, tapi tahun ini kita memang sudah upayakan untuk bersurat ke sana," sambung Marthin.
Pihak dinas menyatakan telah bergerak cepat untuk meminta bantuan tambahan pasokan ke pusat, meski masih terganjal prosedur administrasi.
"Memang dari saya sudah berusaha untuk bermohon ke kementerian, Ditjen Peternakan. Tapi, ya itu, mereka billing bersuratlah dulu katanya nanti," ungkap Marthin.
Hingga saat ini, ibu kota provinsi dilaporkan masih aman dari temuan rabies.
"Di Medan belum ada laporan," kata Marthin.
Kendati demikian, ia menjelaskan bahwa kasus nyata telah menyebar di beberapa daerah lain. "Yang sudah melapor sama kita Simalungun, Tapteng, Dairi. Dairi melapor, tapi belum bersurat mereka," jelasnya.
Bahkan, situasi di salah satu kabupaten dilaporkan telah memakan korban jiwa.
"Di Dairi katanya ada yang dua meninggal ya, tapi itu masih hanya di sana aja, belum bersurat," ungkap Marthin.
Menanggapi situasi ini, Dinas Peternakan Sumut langsung bergerak melakukan pemetaan.
"Ya itu yang masih kita ini kan, dan daerah-daerahnya sudah kita petakan itu. Daerah-daerah yang pada umumnya banyak hewan anjing," tambahnya.
Marthin juga mengimbau masyarakat untuk memahami Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan pertama jika terkena gigitan anjing atau kucing.
Langkah awal yang wajib dilakukan adalah langsung membersihkan luka dengan air mengalir sebelum ke fasilitas kesehatan.
"Jadi kan kalau orang kena gigit, sebaiknya itu harus langsung dibersihkan dan di-VAR (Vaksin Anti-Rabies). Dibersihkan pakai air mengalir, kemudian pergi ke Puskesmas, itu harus di-VAR, vaksin anti-rabies," tegasnya.
Tindakan cepat ini sangat diperlukan karena fatalnya dampak virus ini. "Karena kalau sempat dia apa namanya, memang yang menggigit atau vektornya itu yang memang sudah kena rabies, itu kan kematiannya hampir 100 persen," lanjutnya.
Di sisi lain, bagi warga yang ingin memberikan vaksinasi bagi hewan peliharaannya, layanan di UPTD Klinik Hewan yang kini dipindahkan ke Jalan Jenderal Gatot Subroto Medan dipastikan tidak dipungut biaya.
"Kalau di klinik kita gratis, karena kenapa saya bilang gratis? Belum ada PAD-nya. Belum ada pungutan PAD untuk klinik hewan. Dan kita kan enggak berani itu kalau tanpa ada regulasi," kata Marthin.
Ia menambahkan bahwa klinik tersebut beroperasi di bawah pimpinan Ibu Srimulyani dan buka sesuai ketentuan yang berlaku.
"Jam operasionalnya jam kerja. Ibu Srimulyani di sana. Sekarang mereka sudah pindah ke dekat kantor kita, di Gatot Subroto," jelasnya.
Selain fokus pada penanganan rabies, Kabid Peternakan Marthin Sibagariang juga memberikan perhatian khusus terkait persiapan Hari Raya Iduladha. Masyarakat diimbau untuk lebih selektif dalam memilih hewan kurban yang sehat dan layak sesuai kriteria.
"Bahwa kita memang punya standar. Yang pertama kan hewan kurban itu kan umurnya kan, yang harus jantan. Kalau betina, saya enggak tahu bisa, tapi enggak dianjurkan karena ada perlindungan hewan betina produktif. Jantan umur 2 tahun ke atas," paparnya.
Selain umur dan jenis kelamin, faktor administrasi kesehatan juga menjadi poin penting yang ditekankan.
"Kemudian sehat. Sehat ya itu, seharusnya kan ada surat SKKH, Surat Keterangan Kesehatan Hewan dari dokter hewan yang ada di situ," lanjut Marthin. Proses penyembelihan pun disarankan melibatkan tenaga ahli demi keamanan bersama.
"Kemudian harus juga sebaiknya juru sembelih itu adalah Juleha (Juru Sembelih Halal). Supaya jangan terjadi kecelakaan-kecelakaan yang terjadi kan, ada yang terkena tendang, atau segala macam," pintanya.
"Terkait maraknya kekhawatiran akan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta *Lumpy Skin Disease* (LSD) pada hewan ternak, masih ada di bawah toleransi," pungkasnya.
(cw5/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KOTA MEDANPemko Medan Matangkan Lahan Proyek Pengolahan Sampah Listrik
Herman Saleh Harahap·41 menit yang lalu -
SUMUTBobby Nasution Ajak Perantau Minang Dorong Ekonomi Keumatan dan Industri Halal
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
KESEHATANBulan Bakti Peternakan, Pemprov Sumut Targetkan Bebas Rabies 2030
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
-
KRIMINALDalih Kasihan karena Korban Yatim, Guru SMP di Situbondo Diduga Cabuli Siswinya
hendra·7 jam yang lalu -
SUMUTDeteksi Dini Peredaran Narkoba, Rutan Kelas IIB Tarutung Razia Kamar Hunian WBP
Fadli Tara·8 jam yang lalu -
-
SUMSELJaga Keselamatan 3,2 Juta Penumpang, PT KAI Divre III dan BPKARSS Intensifkan Perawatan Jalur LRT Sumsel
hendra·9 jam yang lalu -
KRIMINALTerungkap! Pemilik Rumah Penyimpan 101 Burung Dilindungi Ternyata Paman Terpidana Perdagangan Satwa
hendra·9 jam yang lalu -
KRIMINALBawa 106 Gram Ganja, Residivis Narkoba 59 Tahun Diciduk Polres Pematangsiantar
hendra·10 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan