Polemik BEM UBK: Refleksi Politik Transaksional dan Peta Kekuasaan di Balik Layar
Fenomena BEM UBK Gate dinilai sebagai cerminan politik transaksional yang nyata. Simak analisis mendalamnya di sini
Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Jagat maya belakangan ini dihebohkan oleh gelombang kecaman netizen yang dialamatkan kepada oknum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bung Karno (UBK).
Menanggapi riuhnya respons publik tersebut, Ketua Dewan Pertimbangan Gerakan Pemuda Marhaen (GPM), Ristiyanto memberikan pandangan mendalam mengenai fenomena yang kini disebut sebagai peristiwa "BEM UBK Gate".
Dalam keterangannya, Senin (29/6/2026), Ristiyanto mengimbau masyarakat luas agar menyikapi persoalan ini dengan kepala dingin. Menurutnya, penilaian publik terhadap aksi para aktivis mahasiswa tersebut hendaknya tetap dilakukan secara terukur dan tidak berlebihan.
Ia pun menyadari, sudut pandang yang ia bawa ini mungkin terasa unik dan menjadi suara minoritas di tengah kepungan kritik netizen. Ristiyanto menilai, apa yang dipertontonkan oleh oknum BEM UBK tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah refleksi dari realitas yang lebih besar.
Fenomena ini disebutnya sebagai cerminan akurat dari kondisi masyarakat Indonesia yang saat ini sedang "sakit". Menurut analisisnya, kondisi tersebut diperparah oleh pengaruh kuat virus liberal-kapitalisme, baik di sektor politik maupun ekonomi, terutama semenjak bergulirnya amandemen UUD 1945.
Lebih lanjut, ia mengajak publik untuk jujur melihat realitas politik nasional yang terjadi selama ini. Ristiyanto menyoroti bagaimana praktik politik uang (money politics) seolah-olah sudah bertransformasi menjadi hal yang lumrah dan tidak lagi dianggap tabu dalam setiap perhelatan pesta demokrasi, baik pada Pemilihan Legislatif (Pileg) maupun Pemilihan Presiden (Pilpres).
Secara satire, Ketua Dewan Pertimbangan GPM ini menyimpulkan, para mahasiswa di BEM UBK sebenarnya hanya berhasil menyerap dengan baik kebiasaan buruk yang sudah mengakar di masyarakat. Apa yang mereka lakukan dinilai sebagai bentuk adopsi langsung dari realitas transaksional yang kerap dipertontonkan oleh orang-orang dewasa di panggung politik praktis.
Ristiyanto juga menambahkan, para mahasiswa tersebut sebenarnya hanya memodifikasi anjuran yang sering disuarakan oleh para aktivis pro-demokrasi pada setiap momen Pemilu. Jika selama ini masyarakat akrab dengan slogan "Ambil uangnya, tapi jangan pilih orangnya," maka dalam kasus ini terjadi sebuah pergeseran logika yang diadopsi oleh mahasiswa.
Oleh oknum BEM UBK, slogan pragmatis tersebut kemudian diubah polanya menjadi "Ambil uangnya, tapi jangan ubah titik tujuan demonya." Pergeseran ini terbukti di lapangan ketika kelompok mahasiswa tersebut tetap konsisten menggelar aksi unjuk rasa menuju Istana Negara, dan menolak untuk mengalihkan rute demonstrasi mereka ke Gedung DPR RI.
Melihat kenyataan pahit tersebut, Ristiyanto menyerukan sebuah pesan moral yang cukup menohok bagi semua pihak. Ia menegaskan bahwa momentum pagi ini harus dijadikan waktu yang tepat untuk menyuarakan penghentian segala bentuk kemunafikan.
Ia meminta agar seluruh lingkaran elemen bangsa menyudahi hipokrisi yang selama ini dipelihara dalam kehidupan berpolitik.
Dari kacamata geopolitik dan analisis strategi, peristiwa "BEM UBK Gate" ini dinilai secara jelas memperlihatkan peta menang-kalah antar-aktor politik di lingkaran kekuasaan.
Ristiyanto melihat bahwa pihak yang paling diuntungkan dari situasi krisis ini adalah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang sukses memanen citra positif sebagai sosok pemimpin yang aspiratif, komunikatif, dan mau mendengar langsung keluhan mahasiswa.
Sebaliknya, Ristiyanto memberikan catatan kritis bagi jalannya roda pemerintahan. Ia menilai Presiden Prabowo Subianto telah kalah satu langkah akibat lambatnya respons dari tim internal, yang kemudian menular pada kelambatan gerak Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco, Partai Gerindra, serta parpol koalisi pendukung pemerintah.
Kelambatan mengantisipasi dinamika politik ini dianggap berbahaya bagi keberlanjutan kepemimpinan Presiden ke depan, sehingga gerakan "Save Prabowo" dinilai menjadi sangat relevan demi menyelamatkan masa depan pemerintahan.
(Akb/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
SUMATERA TERKINIPemkab Pasbar Dukung Penguatan Kampung Bebas Narkoba di Nagari Ophir
Herman Saleh Harahap·52 menit yang lalu -
KOTA MEDANTerciduk Ngopi Saat Jam Dinas, Dua ASN Pemko Medan Diperiksa Inspektorat
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
NEWSPanglima TNI Ziarah ke Makam Soeharto dan Jenderal Soedirman
Herman Saleh Harahap·1 jam yang lalu -
EKONOMIDugaan Tying LPG, PT Hibarnas Jaya Ajukan Perubahan Perilaku ke KPPU
Herman Saleh Harahap·2 jam yang lalu -
PENDIDIKANPertukaran Pelajar, Rico Waas Lepas 10 Pelajar ke Ipoh
Herman Saleh Harahap·3 jam yang lalu -
VIRALViral, Pria Diduga Kepala SPPG di Tebingtinggi Kepergok Istri Sah Dugem Bareng Selingkuhan Berujung Pelaporan
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NASIONALAnggota DPR Desak Evaluasi Sistem Keselamatan Pelayaran
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu -
-
KRIMINALBawa 44 Bungkus Sabu dari Aceh, Dua Pria Ditangkap di Besitang
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
NASIONALTinjau API Banyuwangi, Wamenaker Minta Peserta MagangHub Asah Kompetensi
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan