Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Pemimpin Hamas Haniyeh Tewas Terbunuh, Iran Bergerak Cepat

IRGC juga menyampaikan belasungkawa kepada bangsa Palestina dan kelompok Hamas yang berjuang di garis depan perlawanan

Pemerintah Iran buka penyelidikan kasus pembunuhan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh. Foto: REUTERS/Mohammed Salem
Pemerintah Iran buka penyelidikan kasus pembunuhan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh. Foto: REUTERS/Mohammed Salem
A A

Nusantaraterkini.co -  Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan gerak cepat penyelidikan kasus pembunuhan pemimpin politik Hamas, Ismail , tengah berlangsung.

Hasilnya akan diumumkan hari ini.

IRGC juga menyampaikan belasungkawa kepada bangsa Palestina dan kelompok Hamas yang berjuang di garis depan perlawanan.

"Belasungkawa kepada bangsa Palestina yang heroik, Umat Muslim, para pejuang garis depan perlawanan dan bangsa Iran yang mulia atas kesyahidan pemimpin senior perlawanan Palestina," demikian laporan IRGC, dikutip CNN.

Ismail dinyatakan tewas dalam serangan di kediamannya di Teheran pada Rabu (31/7) pagi. Hamas menuduh Israel dalang di balik serangan ini.

Haniyeh berada di Teheran sejak Selasa (30/7) kemarin, untuk menghadiri pelantikan presiden baru Iran Masoud Pezeshkian. Dia juga bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

"Saudara, pemimpin, mujahid Ismail Haniyeh, kepala gerakan terakan ini, tewas dalam serangan Zionis di Teheran setelah ia berpartisipasi dalam pelantikan presiden baru Iran," demikian pernyataan Hamas, dikutip AFP.

Sementara itu IRGC mengatakan saat serangan itu, seorang pengawal Haniyeh juga tewas.

"Kediaman Ismail Haniyeh, kepala kantor politik Perlawanan Islam Hamas, diserang di Teheran. Akibat insiden ini, dia dan salah satu pengawalnya tewas," kata pernyataan IRGC.

Ismail Haniyeh merupakan kepala biro politik Hamas sejak 2017, menggantikan Khaled Meshaal. Haniyeh jadi tokoh terkenal, terutama usai menjadi Perdana Menteri Palestina pada 2006, menyusul kemenangan Hamas pada pemilu parlemen.

Haniyeh tinggal di pengasingan dan berpindah antara Turki dan Qatar. Dia bergabung dengan Hamas pada tahun 1987, saat peristiwa Intifada Pertama.

Selama agresi Israel ke Palestina, keluarga Haniyeh turut jadi sasaran serangan. Pada April lalu, tiga anak dan empat cucu Haniyeh tewas dibunuh Israel.

(mft/nusantaraterkini.co)

Sumber: CNN Indonesia

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait