Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Pelaku Tawuran: Nggak Ikut Dibilang Banci, Lepoh

Hal itu juga ia lakukan untuk menghindari bullying yang dilakukan oleh teman-temannya jika tidak mau ikutan tawuran

Ilustrasi. (Foto: istimewa)
Ilustrasi. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, - Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, di Kota Medan dan sekitarnya (Deliserdang) seakan gemar melakukan aksi antar kelompok.

Baik itu, mereka lakukan dengan membawa nama sekolah, atau pun sekedar membawa nama geng tempatnya mereka berkumpul dan menghabiskan waktu di lingkungan komunitas.

Aksi para yang umumnya masih di bawah umur ini pun masih terus saja berulang. Tak jarang, meski di antara mereka ada yang tertangkap polisi, namun sepertinya penindakan yang dilakukan aparat belum mampu menimbulkan efek jera.

Bahkan, dalam aksinya para remaja tak segan-segan menggunakan senjata tajam. Akibatnya, aksi antar remaja ini pun sampai pernah mengakibatkan jatuhnya korban.

Terkait fenomena ini, Nusantaraterkini.co pun mencoba melakukan penelusuran. Menurut informasi AN (17), salah seorang remaja yang pernah terlibat dalam tawuran mengaku aksinya itu dilakukan untuk mencari semata.

Remaja putus sekolah yang pernah terlibat dalam aksi tawuran di Jalan Beringin Pasar 7 Tembung ini juga mengatakan, hal itu juga ia lakukan untuk menghindari bullying yang dilakukan oleh teman-temannya jika tidak mau ikutan tawuran.

"Saya diajak soalnya. Kalau enggak ikut (tawuran), dikatain banci, lepoh (lemah), dikata-katain pokoknya," katanya, Sabtu (26/6/2024).

AN menjelaskan, aksi tawuran ini pun kerap bermula dari aksi saling ejek di media sosial antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Setelah itu, dia pun diajak untuk ikut terlibat.

Hal yang sama juga disampaikan BL remaja pelaku tawuran lainnya. Dia menceritakan, aksi tawuran juga kerap terjadi sebagai bentuk balasan dari serangan yang sudah pernah dilakukan.

"Saya mulai ikut karena teman-teman saya terluka, ditambah lagi kampung kita diserang," ucapnya.

Remaja berusia 18 tahun ini menyebutkan, saat kampungnya diserang, bahkan kelompok yang menyerang bukan berasal dari satu kelompok saja, tapi gabungan dari beberapa kelompok.

"Biasanya gabung, ada beberapa geng (kelompok). Ada yang dari Bromo, Jalan Halat, Pasar dua, pasar sembilan, pokok banyak," jelasnya.

BL menuturkan, sebelum tawuran berlangsung, kedua kubu mulanya akan berjanji untuk bertemu di lokasi yang telah ditentukan. Setelah itu, mereka pun mempersiapkan peralatan perang berupa senjata tajam, celurit, kayu dan botol dan menyembunyikannya untuk nanti digunakan.

Selanjutnya, setelah bertemu, mereka pun mengeluarkan pancingan sebagai bentuk provokasi agar tawuran segera dilakukan. Setelah itu, tawuran pun pecah.

BL mengaku, dari aksi tawuran yang pernah dilakoninya, sampai menyebabkan beberapa orang mengalami luka dan ada juga yang sampai harus dilarikan ke rumah sakit.

"Korban luka-luka banyak. Biasanya kalau luka ringan kita obati sendiri, tapi kalau cukup parah, seperti kepala bocor, kena senjata tajam, langsung dibawa ke rumah sakit," jelasnya.

Tekankan Pentingnya Pencegahan 

Polda Sumatera Utara (Sumut) sendiri mengaku menekankan pentingnya pencegahan dalam mengatasi tawuran yang dilakukan anak di bawah umur atau remaja di Sumut.

", tawuran, itu bukan semata-mata tugas kepolisian, semua, masyarakat, lingkungan, sekolah, polisi, semua itu memiliki tanggung yang sama," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Hadi Wahyudi kepada NusantaraTerkini.co, Minggu (30/6/2024).

"Jadi lakukan upaya pencegahan itu dari lingkungan, dari orangtua, dari sekolah dan juga dari pihak-pihak terkait," sambungnya.

Hadi mengatakan, pihaknya pun telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Sumut melakukan sosialisasi pencegahan dan narkoba dengan mendatangi sekolah-sekolah.

"Selama ini kita komunikasi, sosialisasi, pencegahan-pencegahan bahaya narkoba untuk rutin kita lakukan," katanya. 

Karena itu, tambah Hadi, berpesan kepada orangtua dan lingkungan, untuk lebih peduli dan melakukan pencegahan terhadap kenakalan remaja yang dapat berujung aksi tawuran. 

"Yang tadi saya bilang dari awal, lingkungan orangtua harus mampu melakukan pencegahan," tandasnya.

Di lain tempat, Kepala sekolah SMK Swasta NU Nurhaida Oktaviani Siregar menilai, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi banyak mempengaruhi permasalahan dalam dunia pendidikan. Salah satunya adalah meningkatnya kasus kenakalan remaja.

Untuk itu, sebutnya, sekolah harus cepat dalam memberikan penangan jika ada siswa yang terlibat tawuran, ikut geng motor. Bila perlu segera memberikan tindakan tegas kepada siswa tersebut.

Menurut Nurhaida salah satu upaya pencegahan adalah mengundang pihak Kamtibmas khusus untuk memberikan pengetahuan dampak negatif kenakalan remaja kepada siswa baru.

Meski begitu, lanjut Nurhaida, peran pengawasan dari pihak sekolah dan orangtua memiliki letak yang sangat penting dalam mendidik anak-anak untuk timbuh menjadi individu yang bertanggung jawab.

“Disaat penerimaan siswa baru kita melakukan cara persuasif dengan mengundang orangtua ke sekolah dan memberikan arahan ke siswa apa dampak negatif kenakalan remaja,” ujarnya.

Di antaranya, adalah memantau siswa saat berada di lingkungan sekolah dan melakukan seminar melibatkan mahasiswa serta pihak kepolisian untuk memberi perhatian tentang bahayanya kenakalan remaja.

“Kita tau siswa ini masih labil, pendampingan terus dilakukan agar siswa kami di SMK Swasta Nahdatul Ulama (NU) tidak ikut-ikutan kenakalan remaja ini,” pungkasnya.

Penyebab Kenakalan Remaja

Pengamat Sosial Kamelia Sambas mengatakan, kenakalan remaja merupakan fenomena yang kini sering menjadi perhatian dalam masyarakat. Karenanya banyak pertanyaan yang muncul seputar mengapa remaja bisa sampai terlibat dalam perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Kamelia menjelaskan, kenakalan remaja merujuk pada berbagai perilaku negatif yang dilakukan oleh remaja, seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, perkelahian, pergaulan bebas, dan lain sebagainya.

“Pertanyaan pertama yang sering muncul adalah mengapa remaja terlibat dalam perilaku kenakalan ini,” ujarnya Kepada Nusantaraterkini.co, Selasa (2/7/2024).

Dia memaparkan, penyebab kenakalan remaja sangat kompleks dan tidak dapat disimpulkan hanya dengan satu faktor saja. Karena berapa faktor berperan dalam meningkatkan risiko kenakalan remaja sampai terjadi.

Pertama, sebutnya adalah pengaruh lingkungan. Lingkungan yang buruk seperti teman sebaya memiliki perilaku negatif dapat mempengaruhi remaja ikut serta dalam tindakan kriminal.

Kedua, sebutnya adalah faktor keluarga. Terjadinya Konflik keluarga, kurangnya pengawasan orang tua dan pola asuh yang kurang baik dapat mempengaruhi perilaku remaja ini bisa menjadi faktor pendorong anak remaja berperilaku negatif.

"Ketiga adalah ekonomi yang terbatas ini dapat menyebabkan, apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan tidak terpenuhi sehingga mereka mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan mereka, seperti mencuri dan perbuatan kriminal lain," terangnya.

Faktor keempat, lanjutnya adalah pendidikan. Dia menuturkan, kurangnya pendidikan akan mempengaruhi remaja tidak mengetahui nilai-nilai moral dan etika, sehingga mereka tidak bisa membedakan mana tindakan yang benar dan perilaku salah.

"Terkahir adalah media sosial yang sangat mempengaruhi pola pikir remaja. Seringkali konten-konten di media sosial memaparkan perilaku yang kurang baik, sehingga mendorong anak remaja berperilaku seperti yang dilihat mereka di media sosial," tuturnya.

Untuk mengatasi kenakalan remaja, menurut Kamelia, dibutuhkan pendekatan yang holistik dan melibatkan berbagai pihak terkait.

Pertama, sambungnya tentu peran orangtua yang harus memberikan pengawasan yang baik, memberikan pendidikan yang benar seperti konseling tentang nilai-nilai positif dan menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis.

Selanjutnya adalah sekolah harus melibatkan diri aktif dalam memberikan pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai positif, melibatkan remaja dalam kegiatan positif dan memberikan dukungan sosial, sehingga remaja tidak terlibat hal-hal negatif.

"Begitu juga masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang aman, memberikan kesempatan pendidikan yang sama, dan memberikan dukungan kepada remaja yang berisiko," imbuhnya.

Karena itu, Kamelia memberikan kesimpulan, jika kenakalan remaja merupakan masalah kompleks yang membutuhkan perhatian dan tindakan dari semua pihak.

“Dengan memahami penyebab, dampak dan solusi yang telah dijelaskan, kita dapat bekerja sama untuk mencegah dan mengatasi kenakalan remaja, serta menciptakan generasi muda yang lebih bertanggung jawab dan berkontribusi positif bagi masyarakat,” pungkasnya.

(Tim/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru