Pasar Saham Asia Mengalami Koreksi Tajam Usai Donald Trump Umumkan Kebijakan Tarif Baru
Pasar saham Asia mengalami koreksi tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru yang menargetkan sejumlah
Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Kamis (3/4/2025) Pasar saham Asia mengalami koreksi tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru yang menargetkan sejumlah mitra dagang.
Kebijakan ini menetapkan tarif global minimum 10% serta tarif tambahan berdasarkan bea masuk yang dikenakan negara-negara tersebut terhadap produk AS.
Langkah ini memicu kekhawatiran terhadap ketegangan perdagangan global dan pelemahan ekonomi. China menjadi negara yang paling terdampak dengan total tarif baru sebesar 54%.
Melansir data Bloomberg, indeks Nikkei 225 masih turun 2,77% usai dibuka ambles 4%. Indeks Nikkei 225 bahkan menyentuh level terendah dalam 8 bulan. Penurunan ini terutama didorong oleh kekhawatiran terhadap industri otomotif dan elektronik Jepang, yang menjadi target utama kebijakan tarif.
Sementara itu, indeks Shanghai Composite turun 0,2%, indeks Hang Seng melemah 1,57%, dipicu oleh kekhawatiran terhadap perlambatan ekspor dan tekanan tambahan terhadap sektor teknologi.
Setali tiga uang, indeks Kospi turun 0,76% usai Korea Selatan kena tarif impor 32%. Investor mengantisipasi dampak negatif pada perusahaan semikonduktor dan industri manufaktur, yang sangat bergantung pada ekspor ke AS.
Hal yang sama terjadi pada indeks India atawa BSE Sensex yang sempat turun 0,29%, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap tekanan perdagangan yang meningkat.
Di Asia Tenggara, Indonesia menghadapi tarif baru sebesar 32%, sementara Singapura relatif lebih terlindungi dengan tarif yang lebih rendah.
Straits Times Index Singapura turun 0,03% karena ketidakpastian perdagangan global.
Sementara itu, indeks Ho Chi Minh Stk ambles 6,63%. Ini adalah dampak setelah Vietnam kena tarif impor 46% dan jadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.
Kebijakan tarif ini meningkatkan volatilitas di pasar saham Asia dan menambah ketidakpastian bagi investor.
Negara-negara yang terkena dampak kini tengah mempertimbangkan langkah selanjutnya, baik melalui negosiasi maupun potensi tindakan balasan terhadap AS.
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
PERISTIWATragis! Pria 64 Tahun Tewas Tertabrak Kereta di Kertapati Palembang
Rozie Winata·11 menit yang lalu -
EKONOMIReshuffle Kabinet Jadi Bayang-Bayang IHSG, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham Hari Ini
hendra·21 menit yang lalu -
INTERNASIONALPutra Mahkota Arab Saudi: Dunia Hadapi Krisis Energi di Tengah Ketidakpastian Global
Rozie Winata·36 menit yang lalu -
SEPAKBOLAOle Romeny Ungkap Duel Kontra Bangladesh Jadi Laga Paling Emosional Sepanjang Kariernya
Rozie Winata·45 menit yang lalu -
-
KESEHATANRSU Haji Medan Tegaskan Komitmen Tanpa Diskriminasi: Pasien BPJS dan Umum Dilayani Setara
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
NASIONALSarmuji Jadi Menteri Perindustrian, Eva Monalisa: Program Strategis Harus Dikebut, Jangan Terputus
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
KOTA MEDANKomda Sumut-NAD PMKRI : Informasi Tuan Rumah Rakernas PMKRI di Cabang Medan Pembohongan Publik
Fadli Tara·9 jam yang lalu -
ENTERTAIMENTNonton Perdana 'Jamin Setia Selamanya', Rico Waas Apresiasi Djamin Ginting
Herman Saleh Harahap·9 jam yang lalu -
KESEHATANKasus Influenza A Naik, Dinkes Medan Siagakan Faskes
Herman Saleh Harahap·10 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan