Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Menhut Minta Masyarakat tak Bermain Api, Tiga Helikopter Dikerahkan Padamkan Kebakaran di Bromo

Menhut Minta Masyarakat tak Bermain Api, Tiga Helikopter Dikerahkan Padamkan Kebakaran di Bromo

A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — (Menhu) Raja Juli Antoni meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Agustus.

Raja Juli mengatakan telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi ancaman fenomena El Nino yang disebutnya sebagai "El Nino Godzilla".

Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga pada 28 Juli.

"Artinya all out untuk mengantisipasi El Nino yang sering disebut sebagai El Nino Godzilla ini. Dan memang Agustus ini sudah mulai masuk puncaknya," ujar Raja Juli. Senin (10/8/2026).

Menurut dia, potensi kebakaran sudah mulai terlihat di sejumlah wilayah. Saat melakukan kunjungan ke Sumatera Selatan, Raja Juli menemukan sejumlah titik api di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Banyuasin.

"Oleh karena itu, dari pemerintah kami terus berkoordinasi untuk mengantisipasi dan menyelesaikan masalah ini," kata Sekjen PSI ini.

Namun, Raja Juli menegaskan upaya pemerintah harus diikuti kesadaran masyarakat. Ia meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membuang puntung rokok sembarangan maupun membuka lahan dengan cara membakar.

"Jangan ada lagi yang bermain api. Ini secara literal bermain api, apakah itu rokok atau yang lebih nakal lagi, land clearing, terutama di luar Jawa," ujarnya.

Ia menegaskan, pihak yang sengaja melakukan pembakaran hutan dan lahan akan berhadapan dengan proses penegakan hukum.

Terkait kebakaran yang terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Raja Juli mengatakan pemerintah telah mengerahkan tiga helikopter untuk mendukung operasi pemadaman melalui water bombing.

Operasi tersebut telah berlangsung sejak dua hari sebelumnya. Namun, pelaksanaan water bombing sempat terkendala kondisi cuaca yang menyebabkan helikopter hanya dapat beroperasi hingga sekitar pukul 13.30 WIB.

"Alhamdulillah hari ini sangat cerah. Tadi dijanjikan akan bisa sebanyak 30 water bombing untuk drop 30. Tadi sudah ada 17," kata Raja Juli.

Ia berharap kondisi cuaca tetap mendukung sehingga target 30 kali water bombing dapat tercapai dan titik-titik api, khususnya di wilayah dengan medan terjal yang sulit dijangkau pasukan darat, dapat segera dipadamkan.

Selain menggunakan helikopter, pasukan darat terus melakukan upaya pemadaman dan membuat sekat bakar. Menurut Raja Juli, sekat bakar telah dibuat sepanjang sekitar enam kilometer di sejumlah lokasi.

Namun, kondisi medan yang memiliki tingkat kemiringan tinggi serta angin kencang membuat api dapat melompat melewati sekat yang telah dibuat.

"Memang kejadian kemarin karena kelerengan dan juga angin yang sangat tinggi, akhirnya apinya meloncat," ujarnya.

Raja Juli mengatakan pemerintah juga telah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC).

Berdasarkan perhitungan BMKG, operasi modifikasi cuaca diperkirakan sulit dilakukan dalam 10 hari ke depan karena kondisi atmosfer yang tidak mendukung.

"Secara matematis, secara teknokratik dihitung hampir mustahil 10 hari ke depan ada OMC," kata Raja Juli.

Karena itu, pemerintah saat ini akan mengandalkan dua strategi utama, yakni operasi water bombing dari udara dan pemadaman oleh pasukan darat.

Untuk memastikan operasi berjalan lebih terkoordinasi, pemerintah juga membentuk struktur incident commander. Struktur tersebut diharapkan dapat memperjelas koordinasi dalam menangani kebutuhan, tantangan, serta pengambilan keputusan selama proses pemadaman.

"Jadi dibuat struktur supaya pekerjaan ini lebih teratur, lebih rapi, lebih terstruktur. Semua kebutuhan, tantangan bisa dikoordinasikan sehingga pemadaman ini akan bisa lebih baik," ujarnya.

Raja Juli menambahkan, upaya penanganan karhutla perlu dilakukan secara berkelanjutan karena potensi kebakaran masih dapat terjadi hingga akhir Oktober.

Dalam penanganan kebakaran tersebut, pemerintah melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI-Polri, BMKG, BNPB, masyarakat peduli api, hingga jajaran pengelola kawasan konservasi.

Raja Juli juga menekankan aspek keselamatan dalam operasi pemadaman.

"Safety first. Kita tidak mau mempertaruhkan nyawa warga negara karena bencana ini," tegasnya.

Sementara itu, terkait dugaan kesengajaan dalam pembakaran hutan dan lahan, Raja Juli menyerahkan proses penegakan hukum kepada aparat terkait.

Ia kembali mengimbau masyarakat agar tidak melakukan tindakan yang dapat memicu kebakaran.

"Untuk saat ini kami hanya bisa mengimbau kepada masyarakat agar jangan bermain api," ujarnya.

(LS/Nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait