Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

IHSG Diproyeksi Lanjut Menguat, Tembus 6.200 Jadi Target Perdagangan Rabu

IHSG diprediksi melanjutkan penguatan pada Rabu, 7 Oktober 2026 setelah naik tiga hari beruntun. Investor mencermati level 6.240.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan, IHSG hari ini. (Foto: istimewa)
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan, IHSG hari ini. (Foto: istimewa)
A A

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Optimisme tersebut ditopang tren positif indeks yang telah berlangsung selama tiga sesi perdagangan berturut-turut.

Pada perdagangan Selasa (6/10/2026), IHSG ditutup naik 1,21 persen ke level 6.192,93. Sebelumnya, indeks sempat bergerak di sekitar area 6.000 sebelum akhirnya berbalik menguat.

BRI Danareksa Sekuritas menilai ruang penguatan IHSG masih terbuka, terutama untuk mengisi area gap yang terbentuk pada perdagangan sebelumnya.

Dari sisi teknikal, pergerakan IHSG juga dinilai mulai menunjukkan sinyal positif setelah indeks mampu bertahan di atas support 6.017 sekaligus melewati resistance 6.140.

Jika penguatan dapat dipertahankan di atas level 6.140, IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan menuju area 6.240. Sebaliknya, apabila indeks kembali bergerak di bawah level tersebut, IHSG berpeluang memasuki fase konsolidasi.

Meski momentum penguatan cukup kuat, investor masih perlu mencermati aktivitas pelaku pasar asing. Pada perdagangan Selasa, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell sekitar Rp597 miliar.

Sentimen eksternal juga menjadi perhatian pasar pada perdagangan Rabu. Investor akan mencermati publikasi risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang berlangsung pada pertengahan September 2026.

Risalah tersebut diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat ke depan. Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada pada kisaran 3,75 persen-4,00 persen.

Selain kebijakan moneter AS, tingginya imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang berada di sekitar 5,3 persen juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor. Pergerakan yield obligasi AS berpotensi memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dengan demikian, meski IHSG masih memiliki peluang melanjutkan tren positif, investor tetap perlu memperhatikan pergerakan asing dan respons pasar terhadap risalah FOMC untuk menentukan arah indeks selanjutnya.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru