Efek Domino Perang Iran, Ini Negara yang Terancam Kolaps Ekonomi Akibat Krisis Energi
Konflik Iran picu krisis energi global. Sejumlah negara terancam kolaps ekonomi akibat lonjakan harga dan gangguan pasokan.
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Eskalasi militer yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini bukan lagi sekadar masalah keamanan regional, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dunia. Pecahnya konflik di jantung produsen energi tersebut berisiko memicu guncangan pasokan global yang dampaknya merambat melalui jalur perdagangan dan fiskal.
Berdasarkan analisis Reuters, kerentanan setiap negara sangat bervariasi, tergantung pada tingkat ketergantungan impor energi serta kesehatan anggaran negara yang sudah ada sebelumnya.
Di jajaran negara maju G7, Eropa kembali berada di garis depan risiko.
Pengalaman pahit krisis energi akibat invasi Rusia ke Ukraina beberapa tahun silam membayangi kawasan ini. Jerman, sebagai raksasa industri, menghadapi tekanan hebat karena mesin ekonominya sangat haus energi, sementara ruang fiskal untuk memberikan subsidi mulai menyempit. Situasi serupa menghimpit Italia dan Inggris. London, khususnya, menghadapi risiko inflasi yang berkepanjangan akibat ketergantungan sistem kelistrikan mereka pada gas, yang harganya diprediksi akan melonjak lebih cepat daripada minyak mentah.
Jepang mencatatkan diri sebagai salah satu yang paling rapuh di Asia. Dengan hampir seluruh pasokan minyaknya berasal dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz, gangguan pada jalur vital tersebut dapat melumpuhkan aktivitas domestik. Tekanan ini kian diperparah oleh pelemahan nilai tukar Yen yang membuat biaya impor bahan baku melambung tinggi.
Dilansit RMOL, Senin (23/3/2026), dampak paling destruktif justru membayangi negara-negara berkembang dan kawasan Teluk sendiri. Meski berstatus eksportir, negara seperti Kuwait, Qatar, dan Bahrain terancam kontraksi ekonomi jika Selat Hormuz terblokade, sehingga kekayaan sumber daya mereka tidak bisa terdistribusi ke pasar global.
Di Asia Selatan, India berada dalam posisi sulit, ketergantungan impor minyak sebesar 90% membuat ekonomi mereka terpukul melalui pelemahan Rupee dan kelangkaan energi di tingkat rumah tangga.
Kondisi paling kritis dialami oleh negara-negara dengan fondasi ekonomi yang sudah retak, antara lain:
Turki: Terhimpit beban pengungsi dan cadangan devisa yang kian menipis untuk menjaga stabilitas mata uang.
Sri Lanka & Pakistan: Terpaksa mengambil kebijakan darurat mulai dari penetapan hari libur tambahan hingga pemangkasan konsumsi bensin demi menghemat stok energi yang menipis.
Mesir: Menghadapi ancaman berlapis dari lonjakan harga pangan, penurunan pendapatan Terusan Suez, hingga hancurnya sektor pariwisata akibat ketidakpastian geopolitik.
Skenario terburuk dari konflik ini adalah terciptanya perang regional berskala besar yang akan memutus urat nadi energi dunia. Jika diplomasi gagal meredam ketegangan, daftar negara yang terancam bangkrut diprediksi akan terus bertambah, mengingat keterhubungan pasar finansial dan komoditas global yang sangat erat saat ini.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KOTA MEDANPemko Medan Kembangkan Layanan Publik Berbasis WhatsApp-AI
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu -
SEPAKBOLALiga 2: Sumsel United Raih Poin Penuh di Kandang Persiraja Banda Aceh 2-1
Herman Saleh Harahap·4 jam yang lalu -
SUMUTPemprov Sumut dan DPR RI Komitmen Tingkatkan Pelayanan Haji 2027
Herman Saleh Harahap·5 jam yang lalu -
KESEHATANMuara Enim Jadi Lokasi Uji Coba Reformasi JKN Kemenkes
Herman Saleh Harahap·5 jam yang lalu -
NASIONALWamenaker: Pelindungan Peserta Pemagangan Luar Negeri Jadi Prioritas
Herman Saleh Harahap·6 jam yang lalu -
PAPUA TERKINIMRP Minta Dukungan DPD Percepat Pembentukan Provinsi Papua Utara
Herman Saleh Harahap·6 jam yang lalu -
-
EKONOMIEkspor Naik, Neraca Perdagangan Sumut Surplus US$731 Juta
Herman Saleh Harahap·7 jam yang lalu -
SUMUTDinsos Sumut Salurkan Bantuan Pascabencana ke 13.702 Keluarga
Herman Saleh Harahap·7 jam yang lalu -
NEWS VIDEOKejagung Bongkar Dugaan Korupsi Pengadaan Motor MBG Rp1,2 Triliun
Fadli Tara·7 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan