APBN 2027 Jangan Berhenti di Angka, Harus Terasa di Kantong Rakyat
APBN 2027 capai Rp4.106T, Banggar DPR minta anggaran tepat sasaran dan benar-benar dirasakan langsung oleh rakyat
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah mengingatkan pemerintah agar APBN 2027 tidak berhenti sebagai deretan angka fantastis, tetapi benar-benar menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat.
Pesan itu disampaikannya, di tengah besarnya postur APBN 2027.
Diketahui, belanja negara mencapai Rp4.106,3 triliun, dengan target pertumbuhan ekonomi 6 persen, penurunan kemiskinan menjadi 6–6,5 persen, pengangguran 4,30–4,87 persen, serta penciptaan hingga 3,49 juta lapangan kerja baru.
Menurut Said, target tersebut harus dibarengi disiplin fiskal. Pemerintah ditargetkan mampu mengumpulkan pendapatan negara Rp3.435,1 triliun, sementara defisit APBN dipatok Rp671,2 triliun atau 2,4 persen terhadap PDB.
Kegagalan mencapai target pendapatan berpotensi memperbesar defisit atau memaksa pemerintah memangkas belanja yang telah dirancang untuk masyarakat.
Said yang juga Anggota Komisi XI DPR ini, menyoroti konsekuensi pembengkakan defisit terhadap utang negara. Ia mengingatkan, semakin besar utang baru yang ditarik, semakin besar pula beban pembayaran bunga dan pokok di masa mendatang.
Karena itu, pencapaian target pendapatan negara disebutnya sebagai bagian penting dari menjaga kesehatan fiskal.
Di sisi belanja, Said menekankan anggaran harus tepat sasaran. APBN 2027 menyediakan Rp539,7 triliun untuk perlindungan sosial, Rp824 triliun untuk pendidikan, Rp195,3 triliun untuk ketahanan pangan, Rp735 triliun untuk Transfer ke Daerah, dan Rp77 triliun untuk Dana Desa. Besarnya anggaran tersebut, menurut dia, harus diukur dari dampaknya, bukan sekadar tingkat serapan.
“Setiap rupiah uang rakyat harus menghasilkan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat,” tegas Said kepada wartawan, Senin (5/10/2026).
Ia juga meminta pemerintah tidak hanya melindungi masyarakat miskin, tetapi mencegah kelompok yang telah berhasil naik kelas kembali jatuh akibat kehilangan pekerjaan, sakit, biaya pendidikan, atau tekanan ekonomi.
"APBN harus menjadi alat pemerataan sehingga tempat seseorang dilahirkan tidak menentukan seberapa besar kesempatan untuk maju. Pertumbuhan ekonomi baru bermakna jika kemajuan tersebut benar-benar terasa hingga ke desa, sekolah, puskesmas, pasar, sawah, dan meja makan keluarga Indonesia," tandasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KRIMINALEdarkan Sabu dan Ganja di Bantaran Rel Jalan Sutomo, Pria Paruh Baya Diringkus Polisi
Rozie Winata·26 menit yang lalu -
PENDIDIKANFilep Wamafma Desak Pemerataan Pendidikan Hingga Pelosok Papua Barat
Rozie Winata·39 menit yang lalu -
NASIONALAPBN 2027 Jangan Berhenti di Angka, Harus Terasa di Kantong Rakyat
Rozie Winata·52 menit yang lalu -
EKONOMIIHSG Hari Ini Dibuka Menguat 18 Poin ke 6.055, Pasar Cermati Data Ekonomi dan Konflik Timur Tengah
hendra·1 jam yang lalu -
SUMSELGubernur Sumsel Bentuk Lima Unit BPBD Kecamatan untuk Atasi Karhutla di OKI
Rozie Winata·1 jam yang lalu -
KRIMINALDugaan Penyiksaan ABK KM Maulana 23, DPR Desak Perusahaan dan Pelaku Diproses Hukum
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
POLITIKTolak Parliamentary Threshold 5 Persen, Partai Gelora: Jangan Batasi Suara Rakyat
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
POLITIKDPD RI Kritik Kabinet Prabowo Terlalu Gemuk, Pertanyakan Urgensi Wamenko dan Wantimpres
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
NASIONALHUT TNI ke-81, Susaningtyas Tekankan Reformasi dan Kemandirian Alutsista
Rozie Winata·3 jam yang lalu -
SEPAKBOLAKondisi Ole Romeny Belum Pasti Jelang Laga Puncak Kontra Thailand di SUGBK
Rozie Winata·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan