Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Alat Kelamin Pria Ini Diamputasi, Apa Penyebabnya?

Ternyata mengkonsumsi alkohol berlebih banyak menimbulkan efek bagi tubuh. Selain tidak baik untuk kesehatan, ternyata konsumsi alkohol berlebih

Bagikan:
Ilustrasi
Ilustrasi
A A

nusantaraterkini.co, MEDAN - Ternyata mengkonsumsi alkohol berlebih banyak menimbulkan efek bagi tubuh. Selain tidak baik untuk kesehatan, ternyata juga dapat merusak sebagian fungsi tubuh.

Seperti yang terjadi di Meksiko. Seorang pria berusia 65 tahun harus rela kehilangan penisnya. Alat kelaminnya tersebut harus diamputasi karena membusuk. Penyebabnya lantaran pasien mengonsumsi alkohol secara berlebihan.

Pria yang tidak disebutkan identitasnya tersebut awalnya ke klinik kesehatan dan mengeluhkan demam yang dialaminya. Ia juga merasa ada suara berderak di area tulang kemaluannya serta ada banyak nanah berwarna kehijauan dan berbau busuk dari uretra dan kulit preputium, skrotum hingga duburnya.

Dokter pun memeriksa pasien tersebut dan mendapati ada pembesaran pada bagian prostat pasien akibat penumpukan nanah dan abses. Tim dokter pun memberikan transfusi darah, antibiotik dan insulin.

Namun, pada kunjungan kedua pasien ke rumah sakit, kondisinya malah semakin parah. Hingga dokter memutuskan harus mengambil tindakan untuk mengamputasi pasien tersebut karena jaringan yang ada di dalamnya telah menghitam akibat gangrene.

Gangrene adalah kondisi matinya jaringan tubuh akibat tidak mendapat pasokan darah yang cukup. Terungkap pula munculnya gangrene tersebut karena pasien mengonsumsi alkohol secara berlebihan.

"Perkembangan gangrene iskemik lokal pada merupakan kejadian yang sangat langka. Sebab, pasokan darah organ tersebut melimpah dan memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi karena risiko sepsis yang tinggi," tulis para dokter yang dipublikasikan di Urology Case Reports dilansir detikHealth.

"Dalam kasus ini, presentasi gangrene iskemik penis dikaitkan dengan kombinasi beberapa faktor, yakni gangrene Fournier sekunder akibat pemasangan kateter transuretral traumatis, diabetes melitus yang tidak terkontrol, dan penyakit arteri perifer. Penektomi total dilakukan karena kurangnya jaringan yang layak untuk penektomi parsial atau rekonstruksi," jelas para dokter.

Melihat kondisinya itu, pasien diberikan konseling secara ekstensif mengenai indikasi pembedahan, potensi konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang, serta pemasangan kateter sistostomi.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait