Siswa Sekolah Rakyat di Pati Diduga Dikeroyok Temannya hingga Gigi Copot: Sempat Dituding Curi Sabun
Siswa Sekolah Rakyat di Pati diduga dikeroyok teman-temannya akibat tuduhan mencuri sabun hingga mengalami gigi copot dan luka-luka.
Nusantaraterkini.co, PATI – Seorang siswa berinisial D di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Pati, Jawa Tengah, diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah temannya setelah dituduh mencuri sabun. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami sejumlah luka, termasuk satu gigi copot dan satu gigi lainnya patah.
D saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Keluarga Sehat (KSH). Selain mengalami cedera pada gigi, ia juga menderita lebam di kedua bahu, benjolan dan memar di kepala, serta pusing.
D menceritakan, peristiwa itu terjadi pada Selasa (29/9/2026). Saat itu, ia baru selesai makan dan hendak menuju kamar untuk mengambil seragam Pakaian Dinas Lapangan (PDL). Namun, di tengah perjalanan, seorang temannya tiba-tiba menuduh dirinya mengambil sabun.
D mengaku telah membantah tuduhan tersebut. Akan tetapi, ia tiba-tiba mendapat pukulan dari arah belakang tanpa mengetahui siapa pelakunya.
“Awalnya habis makan, habis itu ke kamar, ngambil seragam PDL. Tiba-tiba ditanya, ‘Kamu mengambil sabunku?’ Terus aku bilang enggak. Tiba-tiba dari belakang ada yang memukul,” ujar D saat berada di RS KSH, dikutip Sabtu (10/10/2026).
Korban memperkirakan lebih dari 10 siswa terlibat dalam aksi kekerasan tersebut. Ia mengaku tidak mengenali seluruh orang yang memukulnya karena serangan datang dari berbagai arah.
D bahkan sempat mengalami pandangan gelap ketika bagian tengkuknya dipukul. Ia juga mengaku mendapat pukulan berulang kali di kepala.
“Diserang kepala semua. Jumlah mereka enggak tahu pasti, yang pasti mereka banyak. Kira-kira 10 orang lebih,” tuturnya.
Menurut D, penganiayaan tidak hanya terjadi sekali. Ia mengaku kembali mengalami kekerasan setelah waktu Isya. Para siswa yang diduga terlibat disebut merupakan teman satu angkatan yang duduk di kelas X.
D mengatakan, kejadian di kamar berlangsung sekitar 15 hingga 20 menit. Sementara itu, aksi kekerasan di lokasi lain disebut berlangsung lebih lama.
Akibat serangan tersebut, satu gigi korban terlepas dan satu lainnya patah. D juga mengalami pendarahan pada gigi, memar di bagian tubuh, serta keluhan pusing.
D mengaku tidak pernah memiliki persoalan sebelumnya dengan siswa yang diduga menganiayanya. Ia juga menyatakan tidak mengetahui adanya kelompok atau geng di lingkungan sekolah yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Setelah kejadian, D mengaku melaporkan penganiayaan yang dialaminya kepada guru. Ia menyebut pihak sekolah sempat berjanji akan menindaklanjuti laporan tersebut.
Sebelum dibawa ke rumah sakit, korban terlebih dahulu mendapatkan perawatan di ruang pengawas sekolah. Pada Rabu (30/9/2026), ia kemudian dibawa ke RSUD RAA Soewondo Pati.
D juga mengungkapkan bahwa seorang guru diduga memintanya menyampaikan bahwa luka-luka yang dialaminya disebabkan terjatuh dari tangga apabila ada pihak yang bertanya. Menurut pengakuannya, alasan tersebut berkaitan dengan pengajuan pembiayaan melalui BPJS Kesehatan.
“Kalau ditanya, bilang saja jatuh dari tangga,” kata D menirukan ucapan yang disampaikan guru tersebut.
Setelah menjalani perawatan di RSUD RAA Soewondo dan melanjutkan rawat jalan di rumah, kondisi D belum sepenuhnya pulih. Ia masih merasakan nyeri di sejumlah bagian tubuh, pusing, hingga sesak napas.
Orang tua D kemudian membawanya ke RS KSH pada Rabu (7/10/2026) untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Sementara itu, Wakil Kepala Kesiswaan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Pati, Fachrudin Dwi Saputro, membenarkan bahwa pihak sekolah telah menerima laporan mengenai dugaan penganiayaan tersebut.
Menurut Fachrudin, wali yang bertugas saat kejadian langsung mendatangi lokasi setelah mendapat informasi. Saat tiba, insiden itu disebut telah dilerai oleh siswa lainnya.
Pihak sekolah kini melakukan pendalaman bersama tim guru, wali asuh, dan wali asrama untuk mengetahui kronologi kejadian serta keterlibatan masing-masing siswa.
“Kami sedang mendalami bersama tim guru, wali asuh, dan wali asrama. Apa pun alasan dan latar belakangnya, kami tidak membenarkan adanya tindak kekerasan tersebut,” ujar Fachrudin.
Ia menambahkan, pihak sekolah belum dapat memastikan jumlah siswa yang terlibat. Berdasarkan informasi awal yang diterima, terdapat siswa yang diduga melakukan kekerasan, siswa yang berusaha melerai, serta siswa lain yang hanya berada di lokasi.
“Jadi, kami belum memastikan jumlahnya secara pasti,” katanya.
Hingga kini, pihak sekolah masih menelusuri peran masing-masing siswa untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai dugaan pengeroyokan tersebut.
(Dra/nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
-
-
KRIMINALSiswa Sekolah Rakyat di Pati Diduga Dikeroyok Temannya hingga Gigi Copot: Sempat Dituding Curi Sabun
hendra·1 jam yang lalu -
NEWSBGN Sumut Tutup Sementara SPPG di Medan Buntut 17 Siswa Diduga Keracunan MBG
hendra·1 jam yang lalu -
NEWSRoyalti Karya Jurnalistik Masih Dibahas, Menkum: Skema LMK Tunggu Pembahasan DPR
hendra·2 jam yang lalu -
KRIMINALSatresnarkoba Polres Binjai Tangkap Pria 47 Tahun, Sabu 1,30 Gram Disita
hendra·3 jam yang lalu -
SUMSELKapolda Sumsel Irjen Pol Rony Samtana Resmi Siap Selaraskan Kebijakan Polri dan Tuntaskan Persoalan Karhutla
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
INTERNASIONALKualitas Udara Memburuk, Malaysia Perluas Penutupan Sekolah di Berbagai Wilayah
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
NEWSPTPN IV Regional VI Kebun Julok Rayeuk Utara Santuni Anak Yatim dan Guru Ngaji
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
PERISTIWAKontak Tembak di Maybrat: Tiga Anggota OPM Tewas, Salah Satunya Diduga Danops Kodap IV Sorong Raya
Rozie Winata·5 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan