Berita Unggulan

Ikuti Kami

Nusantaraterkini.co - Portal Berita

Pengamat Sebut Gejolak Harga Beras Tidak Semua Karena El Nino

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menyebut gejolak harga beras tidak semuanya dikarenakan El Nino.

Bagikan:
Ist
Ist
A A

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Pengamat ekonomi menyebut gejolak harga beras tidak semuanya dikarenakan El Nino. Karena itu, menurutnya, alih fungsi lahan juga perlu diperhitungkan untuk menghadapi gejolak harga beras.

"Harga beras terpantau stabil selama periode 2016 hingga awal 2022 sebelumnya. Namun harga beras langsung meroket hingga naik di atas 16,6 persen hingga saat ini di wilayah Sumatera Utara (Sumut)," katanya kepada Nusantaraterkini.co, Senin (25/3/2024).

Gunawan menyebut naiknya harga beras seiring dengan kenaikan biaya produksi di level petani. Menurutnya, kebijakan impor beras oleh pemerintah dilakukan untuk menutup defisit beras secara nasional.

"Impor memang dilakukan pemerintah belakangan ini untuk menghindari kemungkinan memburuknya sisi pasokan, serta memitigasi kemungkinan memburuknya harga beras. Dari hasil observasi di lapangan, menurunnya pasokan bukan hanya dikarenakan oleh gangguan produksi yang dipicu oleh El Nino. Namun ada temuan terjadi alih fungsi lahan," terangnya.

Gunawan menjelaskan alih fungsi lahan seperti di Simalungun dan Deli Serdang terjadi seiring dengan kenaikan harga jagung dan peralihan dari lahan padi pasca panen kedua. Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut ini menyebut bahwa petani di Sumut beralih ke tanaman jagung setelah harganya sempat menyentuh Rp7 ribu/kg.

"Selain itu, lahan padi yang telah memasuki masa panen dua kali juga sebagian dialihkan ke tanaman jagung. Jadi penurunan produksi tidak karena El Nino, namun ada juga alih fungsi lahan karena komoditas lain (jagung) memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi," ujarnya.

Ia mencatat sejauh ini harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani berada dalam rentang Rp6.300 hingga Rp6.800/kg di Sumut. Menurut perhitungannya, harga beras di level kilang menyentuh Rp10.220 sampai Rp10.920 dengan rendemen 60 persen dari biaya penjemuran harga (GKG).

"Asumsikan dengan penyusutan 10 persen, biaya penjemuran harga GKG naik 1.000 per kg dari GKP. Atau katakan GKG berada dalam rentang harga Rp7.300 hingga Rp7.800 per kilonya," jelasnya.

Namun, dikatakannya, hitungan tersebut belum memperhitungkan biaya tenaga kerja, pajak, kemasan hingga distribusi. Menurutnya, harga beras di level konsumen bisa mencapai Rp13 ribu sampai Rp14 ribu/kg untuk kualitas medium.

"Jadi di lapangan harga beras bisa lebih mahal lagi dari hitung-hitungan saya itu jika rendemen mencapai 50 persen atau di bawahnya. Karena harga beras juga ditentukan dengan kualitas mesin penggiling padi yang menghasilkan beras. 

Gunawan menyebut bahwa berdasarkan hasil pantauan di lapangan, rendemen padi ke beras bekisar 48-65 persen. Dia mengatakan kualitas penggilingan kilang padi besar pada umumnya memiliki rasio lebih tinggi dibandingkan kilang padi yang lebih kecil.

"Memang kilang padi juga mendapatkan output selain beras, yakni kulit padi yang hancur dan kerap dijadikan pakan ternak. Namun harganya tidak sebaik harga beras. Saya menyarankan agar perhitungan ketersediaan pasokan beras di Tanah Air juga mempertimbangkan alih fungsi lahan meskipun sifatnya hanya musiman. Karena memang sangat potensial memicu gejolak harga sekalipun terjadi dalam jangka pendek," pungkasnya.

(HAM/nusantaraterkini.co)

Bagikan:

WhatsApp Channel

Ikuti saluran Nusantaraterkini di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru langsung di ponselmu.

Ikuti

Google News

Dapatkan berita pilihan dan update terkini dari Nusantaraterkini di Google News.

Ikuti

Berita Terkait

Berita Terbaru