Gangguan GPS Berulang, Komisi V DPR Desak Evaluasi Sistem Navigasi Udara Nasional
Komisi V DPR RI tinjau AirNav pasca gangguan GPS yang berdampak pada puluhan penerbangan komersial di Indonesia
Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Komisi V DPR turun langsung meninjau kesiapan sistem navigasi udara nasional di Bandara Internasional Bandara Soekarno-Hatta menyusul gangguan sinyal GPS (GPS interference) yang terjadi berulang dan berdampak pada puluhan penerbangan komersial.
Kunjungan kerja spesifik tersebut dilakukan ke AirNav Indonesia guna memastikan keselamatan penerbangan tetap terjaga di tengah ancaman gangguan teknologi navigasi udara.
Anggota Komisi V DPR Saadiah Uluputty mengatakan, pengawasan langsung diperlukan untuk mengevaluasi kesiapan sistem navigasi nasional sekaligus langkah mitigasi yang telah disiapkan pemerintah dan operator navigasi udara.
“Kunjungan kerja spesifik Komisi V DPR RI ke AirNav Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta hari ini merupakan langkah krusial untuk meninjau langsung kesiapan sistem navigasi udara nasional,” kata Saadiah, Sabtu (23/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Komisi V DPR menyoroti laporan gangguan GPS yang terjadi sepanjang April hingga awal Mei 2026. Gangguan itu disebut memengaruhi puluhan penerbangan komersial di sejumlah wilayah udara Indonesia.
Saadiah menegaskan, DPR mendorong investigasi menyeluruh untuk mengungkap sumber gangguan, pola interferensi, hingga wilayah yang dinilai rawan terdampak.
“Investigasi Gangguan Sinyal GPS dilakukan untuk mengonfirmasi laporan mengenai puluhan penerbangan komersial yang terdampak GPS interference pada awal April serta kasus susulan pada 5-6 Mei kemarin,” ujarnya.
Selain investigasi, DPR juga mengevaluasi kesiapan prosedur mitigasi dan teknologi cadangan yang dimiliki AirNav Indonesia dalam menjaga keselamatan navigasi penerbangan.
Menurut Saadiah, penguatan sistem navigasi non-GPS menjadi penting untuk mengantisipasi potensi gangguan serupa di masa mendatang. Ia juga menekankan perlunya peningkatan prosedur keselamatan penerbangan oleh pilot serta pembaruan teknologi navigasi yang lebih adaptif terhadap ancaman interferensi.
“Kesiapan prosedur mitigasi dan teknologi harus dipastikan agar situational awareness ruang udara tetap terjaga,” katanya.
Komisi V DPR turut mendorong penguatan koordinasi lintas sektor antara AirNav Indonesia, operator bandara, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, serta otoritas keamanan udara nasional untuk meningkatkan sistem deteksi dini terhadap potensi gangguan navigasi.
“Koordinasi lintas sektor perlu diperkuat untuk memastikan deteksi dini berjalan optimal, baik terhadap gangguan teknis maupun indikasi kesengajaan,” tutur Saadiah.
DPR menegaskan penguatan sistem navigasi udara nasional kini menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga keselamatan penerbangan di tengah meningkatnya tantangan keamanan teknologi global.
(LS/Nusantaraterkini.co)
Berita Terkait
Berita Terbaru
-
KOTA MEDANFraksi PDIP Soroti Keterlambatan Ranperda Pajak dan Tingginya Biaya PBG Medan
hendra·5 menit yang lalu -
PENDIDIKAN5 Kepala SD Negeri di Tebingtinggi Dicopot, Diduga Terkait Dana Revitalisasi Sekolah
hendra·14 menit yang lalu -
KRIMINALGeger! Jasad Bayi Perempuan Ditemukan dalam Bungkusan Kain Merah di Tembung
hendra·1 jam yang lalu -
NEWSPastikan Pemenuhan Gizi Sesuai Standar, Kapolres Binjai Audit SPPG di Sendang Rejo
hendra·1 jam yang lalu -
POLITIKSoroti Ranperda Pajak, Fraksi PKS DPRD Medan Minta Pemko Jaga Daya Beli Warga
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
PERISTIWADemo DPRD Sumut, KAMMI Soroti Seleksi KPID dan Alokasi Dana Reses
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
POLITIKNusron Wahid Akui Mundur dari Kepengurusan Golkar, Alasan Diserahkan ke Bahlil
Rozie Winata·2 jam yang lalu -
-
KRIMINALCekcok Biaya Anak Berujung Maut, Istri di OKI Tusuk Suami PNS hingga Tewas
Rozie Winata·4 jam yang lalu -
SUMSELBPBD Sumsel Kerahkan Helikopter Water Bombing Padamkan Karhutla Puluhan Hektare di OKI dan Muara Enim
Rozie Winata·4 jam yang lalu
Semua berita sudah ditampilkan